Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Maret 2015

Rezim Ini Fhobia Islam?

Capture salah satu judul berita yang diangkat ROL pagi ini.


Kabar diblokirnya situs-situs Islam merabak cepat melalui jaringan medsos. Informasi yang menyampaikan 19 situs Islam plus 3 situs sebelumnya yang telah diblokir bukan hanya ditulis oleh mereka yang mengelola blog, tapi juga ditulis oleh web besar sekelas dengan Republika Online (ROL), detik.com, dan viva.co.id.

Kita percaya bahwa web sekelas ROL, detik dan Viva tidak akan menyampaikan berita tanpa sumber informasi yang sahih dan bukan berita hoax belaka.

Tak sedikit orang yang kemudian menyayangkan tindakan kemkominfo di bawah Menteri Rudiantara ini. Bahkan, pagi ini, satu judul berita yang masih berkaitan dengan dengan pemblokiran situs-situs Islam, justru situs komunnis dibiarkan bebas tanpa ada “gangguan” dari pemblokiran.


Berita-berita ini kemudian membuat kita bertanya, sedemikian menakutkankah  Islam (baca situs Islam) bagi rezim ini? Sungguh hanya orang-orang yang tidak mengerti Islamlah yang takut pada Islam.
=====

Sabtu, 29 November 2014

HANYA SEKEDAR MASUKAN UNTUK YANG SEDANG EVALUASI KURIKULUM PENDIDIKAN


Sewaktu masih dalam masa evaluasi Kurikulum 2013 (K13).
Ini hanya pendapat dari seorang yang ingin pendidikan di negeri ini maju. Beberapa hal masukan yang ingin saya sampaikan kepada orang-orang yang berwenang mengambil keputusan menetapkan kurikulum pendidikan.
1.       Jangan ada lagi kata “Tinggal Kelas”
Tinggal kelas bukanlah hal yang baik dalam pendidikan. Ada penderitaan yang berat bagi siswa yang mengalaminya. Rasa malu akan sangat begitu membebani sehingga dapat menjadikan siswa tidak percaya diri dengan lingkungan barunya yang semestinya adalah adik kelas baginya. Factor terbesar penyebab tinggal kelas biasanya adalah factor ketidakmampuan si siswa untuk menguasai materi pelajaran. Pertanyaannya, apakah dengan tinggal kelas kemudian dapat menjadikan siswa menguasai materi pelajaran? Lalu bagaimana jika siswa memang mempunyai kemampuan yang rendah?
Jangan ada lagi tinggal kelas.

2.       Hapus penggunaan “Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)”
Ketentuan pencapaian Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebagai nilai minimal yang harus dicapai siswa untuk dapat melanjutkan pada materi berikutnya telah menjadi beban bagi siswa juga bagi guru. Siswa tidak akan dapat melanjutkan pada tingkat berikutnya jika tidak dapat menenuhi nilai minimal yang ditetapkan. Guru menjadi sangat terbebani dengan kejar target nilai minimal dan juga kejar target harus selesai materi pelajaran yang harus diajarkan. Hasilnya hanya akan menghasilkan pembelajaran yang berorientasi pada nilai.

3.       Jadikalnlah guru yang menentukan “Lulus/Tidak Lulus”
Kebijakan Ujian Nasional (UN) dengan nilai minimal yang harus dicapai siswa untuk menjadi lulus telah menjadikan martabat guru dan sekolah jatuh. Bukan rahasia lagi ketika UN, siswa mendapat kunci jawaban dari guru. Ini bukan hanya sekedar guru yang malu jika siswanya tidak lulus, tapi lebih dari itu, ada pihak yang juga merasa malu jika tingkat kelulusan siswa rendah sehingga kemudian pihak itu meminjam tangan sekolah dan guru untuk memberi kunci jawaban. So, jadikanlah wewenang untuk menyatakan lulus/tidak lulus itu ada pada pihak guru atau sekolah, orang yang mendidik siswa selama bertahun-tahun, bukan orang yang sama sekali tidak pernah mendidiknya. Ya…, seperti kata lagu, guru yang mendidik dan mengajari tapi orang lain yang menyatakan lulus/tidak lulus, sakitnya tuh… di sini… .


Semoga bisa dibaca oleh pihak yang berwenang untuk mengambil keputusan terhadap hasil  evaluasi kurikulum pendidikan tahun 2013. Pada pembaca yang punya link dengan mereka, mohon bantu share. Terima kasih.

Selasa, 21 Oktober 2014

CELOTEH SI SULUNG: MENGAPA ALLAH MENCIPTAKAN ORANG JAHAT


Tak sedikit kisah ketika orang tua mendidik anak untuk menjadi manusia yang mengenal Allah SWT. Penuh warna. Tingkah bocah yang lucu, mulai dari pengucapan kata yang belum sempurna yang sering mengundang senyum. Kerewelan dan kemanjaan yang terkadang muncul menguji kesabaran orang tua dalam mendidik buah hati. Dan pengujian kesabaran itupun tidak hanya dating dari polah kerewelan dan kemanjaan anak. Ujian kesabaran orang tua itu juga dating dari rasa keingintahuan anak yang besar sehingga kemudian memunculkan pertanyan-pertanyaan di luar perkiraan, remeh tapi cukup membuat dahi orang berkernyit untuk mencari jawaban yang tidak ngasal.

Dalam mendidik anak, apapun yang ditanya anak, itu semata karena keingintahuan anak yang besar. Sebagai orang tua yang ingin mendidik anak, orang tua tidak boleh mengabaikan pertanyaan dari sang anak dan tidak boleh juga menjawab dengan jawaban yang jauh dari kebenaran. Orang tua harus memberikan jawaban yang benar dengan bahasa yang dapat dimengerti oleh anak.

Seorang ibu berkisah tentang putri sulungnya yang berusia lima tahun beberapa bulan. Ketika si sulung sedang menonton sebuah film animasi yang salah satu adagennya memunculkan tokoh tukang sihir yang jahat. Si sulung bertanya: “Ummi, mengapa Allah menciptakan orang jahat?”

Tak mudah menjawab pertanyaan ini. Namun, orang tua harus tetap menjawab untuk tetap memelihara rasa keingintahuan sang anak. Dan orang tua harus menjawab dengan benar, jika orang tua ingin mendidik anak tentang kebenaran.

Umminya menjawab: “Karena Allah ingin memberi tahu bahwa inilah contoh manusia yang tidak boleh dicontoh.”



Dora The Explorer: Salah satu film animasi anak