INI kisah nyata dari Amerika sekitar tahun 2006. Pengalaman nyata seorang muslimah asal Asia yang mengenakan jilbab.
Suatu hari wanita ini berjalan pulang dari bekerja dan agak kemalaman. Suasana jalan setapak sepi. Ia melewati jalan pintas.
Di ujung jalan pintas itu, dia melihat ada sosok pria Kaukasian. Ia menyangka pria itu seorang warga Amerika. Tapi perasaan wanita ini agak was-was karena sekilas raut pria itu agak mencurigakan seolah ingin mengganggunya.
Dia berusaha tetap tenang dan membaca kalimah Allah. Kemudian dia lanjutkan dengan terus membaca Ayat Kursi berulang-ulang seraya sungguh-sungguh memohon perlindungan Allah swt. Meski tidak mempercepat langkahnya, ketika ia melintas di depan pria berkulit putih itu, ia tetap berdoa. Sekilas ia melirik ke arah pria itu. Orang itu asyik dengan rokoknya, dan seolah tidak mempedulikannya.
Keesokan harinya, wanita itu melihat berita kriminal, seorang wanita melintas di jalan yang sama dengan jalan yang ia lintasi semalam. Dan wanita itu melaporkan pelecehan seksual yang dialaminya di lorong gelap itu. Karena begitu ketakutan, ia tidak melihat jelas pelaku yang katanya sudah berada di lorong itu ketika perempuan korban ini melintas jalan pintas tersebut.
Hati muslimah ini pun tergerak karena wanita tadi melintas jalan pintas itu hanya beberapa menit setelah ia melintas di sana. Dalam berita itu dikabarkan wanita itu tidak bisa mengidentifikasi pelaku dari kotak kaca, dari beberapa orang yang dicurigai polisi.
Muslimah ini pun memberanikan diri datang ke kantor polisi, dan memberitahukan bahwa rasanya ia bisa mengenali sosok pelaku pelecehan kepada wanita tersebut, karena ia menggunakan jalan yang sama sesaat sebelum wanita tadi melintas.
Melalui kamera rahasia, akhirnya muslimah ini pun bisa menunjuk salah seorang yang diduga sebagai pelaku. Ia yakin bahwa pelakunya adalah pria yang ada di lorong itu dan mengacuhkannya sambil terus merokok .
Melalui interogasi polisi akhirnya orang yang diyakini oleh muslimah tadi mengakui perbuatannyaa. Tergerak oleh rasa ingin tahu, muslimah ini menemui pelaku tadi dan didampingi oleh polisi.
“Apa Anda melihat saya? Saya juga melewati jalan itu beberapa menit sebelum wanita yang kauperkosa itu? Mengapa Anda hanya menggangunya tapi tidak mengganggu saya? Mengapa Anda tidak berbuat apa-apa padahal waktu itu saya sendirian?” tanya Muslimah tersebut.
“Tentu saja saya melihat Anda malam tadi,” jawab sang penjahat. “Anda berada di sana malam tadi beberapa menit sebelum wanita itu. Saya tidak berani mengganggu Anda. Saya melihat ada dua orang besar di belakang Anda pada waktu itu. Satu di sisi kiri dan satu di sisi kanan Anda.”
Muslimah itu tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Hatinya penuh syukur dan terus mengucap syukur. Dengkulnya bergetar mendengar penjelasan pelaku kejahatan itu, ia langsung menyudahi interview itu dan minta diantar keluar dari ruang itu oleh polisi.
=====
Copas
https://www.islampos.com/tentu-saja-saya-melihat-anda-tadi-malam-189/
Senin, 23 Januari 2017
Selasa, 17 Januari 2017
6 Karakter Lebah
Oleh: Ahmad Agus
Fitriawan
Rasulullah SAW
bersabda, "Perumpamaan orang beriman itu bagaikan lebah. Ia makan yang
bersih, mengeluarkan sesuatu yang bersih, hinggap di tempat yang bersih, dan
tidak merusak atau mematahkan (yang dihinggapinya)"
(HR Ahmad, al-Hakim,
dan al-Bazzar).
Ada keistimewaan yang
dimiliki hewan kecil bernama lebah ini hingga nabi menjadikannya inspirasi bagi
seorang mukmin.
Pertama
hinggap di tempat
yang bersih dan menyerap hanya yang bersih. Lebah hanya akan mendatangi
bunga-bunga atau buah-buahan atau tempat-tempat bersih lain yang mengandung
bahan madu atau nektar.
Kedua
mengeluarkan yang
bersih. Dari lebah yang dikeluarkan adalah madu yang menyehatkan bagi manusia.
Ketiga
tidak pernah merusak.
Lebah biar bagaimanapun menambatkan diri di dahan. Dahan itu tidak rusak dan
patah.
Keempat
bekerja keras. Lebah
adalah pekerja keras. Ketika muncul pertama kali dari biliknya (saat
"menetas"), lebah pekerja membersihkan bilik sarangnya untuk telur
baru dan setelah berumur tiga hari ia memberi makan larva, dengan membawakan
serbuk sari madu. Dan begitulah, hari-harinya penuh semangat berkarya dan
beramal.
Kelima
bekerja secara
kolektif dan tunduk pada satu pimpinan. Lebah selalu hidup dalam koloni besar,
tidak pernah menyendiri. Mereka pun bekerja secara kolektif dan masing-masing
mempunyai tugas sendiri-sendiri.
Keenam
tidak pernah melukai
kecuali kalau diganggu. Lebah tidak pernah memulai menyerang. Ia akan menyerang
hanya manakala merasa terganggu atau terancam. Dan untuk mempertahankan
"kehormatan" umat lebah itu, mereka rela mati dengan melepas
sengatnya di tubuh pihak yang diserang.
=====
Disarikan dari
http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/16/12/28/oivuno313-6-karakter-lebah-yang-mengandung-hikmah
Bahaya Ilmu Bila Tak Memperbaiki Ahlaq
IBU Sufyan Ats Tsauri
merupakan salah satu dari wanita-wanita agung yang shalihah. Sang ibu pernah
mengatakan kepada putranya,”Wahai anakku, carilah ilmu, aku akan mencukupimu
dengan hasil tenunanku.”
Sang ibu juga
berpesan,”Wahai putraku, jika engkau telah mencatat sepuluh huruf maka lihatlah
dirimu, apakah itu merubah cara jalanmu, keadaanmu, kelembutanmu serta
ketenanganmu. Jika engkau tidak melihatnya, maka ketahuilah, bahwa itu
membahayakan buatmu dan tidak memberikan manfaat bagimu.”
(Al Kawakib Ad Durriyah,
1/231)
=====
copas
http://www.hidayatullah.com/kajian/hikmah/read/2016/09/02/100317/ilmu-berbahaya-jika-tidak-merubah-akhlak.html
Sesungguhnya dunia hanyalah diberikan untuk empat orang
Sesungguhnya dunia
hanyalah diberikan untuk empat orang.
Pertama
hamba yang Allah
berikan ilmu dan harta, kemudian dia bertakwa kepada Allah dalam hartanya,
dengannya ia menyambung silaturahmi, dan ia menyadari bahwa dalam harta itu ada
hak Allah. Inilah kedudukan paling baik (di sisi Allah).
Kedua
hamba yang Allah
berikan ilmu namun tidak diberikan harta, dengan niat yang jujur ia berkata,
‘Seandainya aku memiliki harta, aku pasti mengerjakan seperti apa yang
dikerjakan si fulan.’ Maka dengan niatnya itu, pahala keduanya sama.
Ketiga
hamba yang Allah
berikan harta namun tidak diberikan ilmu, lalu ia menggunakan hartanya
sewenang-wenang tanpa ilmu, tidak bertakwa kepada Allah dalam hartanya, tidak
menyambung silaturahmi dan tidak mengetahui bahwa dalam harta itu ada hak
Allah. Ini adalah kedudukan paling jelek (di sisi Allah).
Keempat
hamba yang tidak
Allah berikan harta tidak juga ilmu, ia berkata, ‘Seandainya aku memiliki
harta, aku pasti mengerjakan seperti apa yang dikerjakan si fulan.’ Maka dengan
niatnya itu, keduanya mendapatkan dosa yang sama.
(HR. Ahmad,
At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Al-Baihaqi, Al-Baghawi & Ath-Thabrani).
=====
Sumber
http://www.hidayatullah.com/kolom/meminang-surga/read/2016/06/27/97040/mendidik-niat.html
Senin, 16 Januari 2017
Buaya Menangis Saat Telan Mangsanya
Ternyata istilah airmata buaya tidak hanya populer di
Indonesia. Dalam khasanah bahasa Inggris pun istilah ini ada, yakni cry
crocodile tears.
Seperti di Indonesia, di belahan Barat istilah airmata buaya juga ditujukan untuk orang yang menangis pura-pura menyesal.
Dalam salah satu artikel di National Geographics disebutkan bahwa selama berabad-abad lamanya manusia menggunakan istilah airmata buaya tanpa benar-benar tahu apa maksudnya.
Baru belakangan inilah studi memperlihatkan bahwa reptil pemangsa itu benar-benar meneteskan airmata saat melahap mangsanya.
Menurut artikel yang terbit bulan Oktober 2007 itu, airmata sang buaya mengalir lebih karena alasan biologis, bukan karena alasan emosional seperti penyesalan.
Seperti di Indonesia, di belahan Barat istilah airmata buaya juga ditujukan untuk orang yang menangis pura-pura menyesal.
Dalam salah satu artikel di National Geographics disebutkan bahwa selama berabad-abad lamanya manusia menggunakan istilah airmata buaya tanpa benar-benar tahu apa maksudnya.
Baru belakangan inilah studi memperlihatkan bahwa reptil pemangsa itu benar-benar meneteskan airmata saat melahap mangsanya.
Menurut artikel yang terbit bulan Oktober 2007 itu, airmata sang buaya mengalir lebih karena alasan biologis, bukan karena alasan emosional seperti penyesalan.
Kent Vliet dari Universitas Florida mengatakan, umumnya
airmata buaya sama dengan airmata manusia.
"Anda bisa menyaksikan kelembaban di mata mereka atau air berkumpul di sudut mata. Pada waktunya, airmata akan menetes keluar dari sudut mata dan mengalir ke wajah mereka seperti airmata yang meleleh di wajah anak-anak manusia,” kata Vliet.
Sementara ahli buaya, Adam Britton, yang juga pendiri Crocodilian.com, dalam studi terpisah menjelaskan bahwa buaya memproduksi airmata sepanjang waktu.
Fungsi airmata buaya sama seperti airmata manusia, yakni untuk melumasi mata. Ini bahkan lebih relevan bagi buaya karena mereka memiliki kelopak mata ketiga yang dikenal sebagai membran pengelip.
Studi yang dilakukan Universitas Florida juga mengatakan bahwa tak mudah mengamati airmata buaya yang tumpah. Ini karena mereka sering menghabiskan waktu di bawah permukaan air, dan juga karena mereka terlalu agresif saat berada di atas tanah.
Di dalam kehidupan buaya yang cukup keras, airmata juga memainkan peran perlindungan.
"Ada banyak drama yang terjadi di sekitar kepala saat mereka menelan mangsa," kata Vliet. Saat menelan mata buaya juga mundur ke arah kepala.
"Mereka mungkin hanya mencoba untuk melindungi mata,” kata Vliet lagi.
"Anda bisa menyaksikan kelembaban di mata mereka atau air berkumpul di sudut mata. Pada waktunya, airmata akan menetes keluar dari sudut mata dan mengalir ke wajah mereka seperti airmata yang meleleh di wajah anak-anak manusia,” kata Vliet.
Sementara ahli buaya, Adam Britton, yang juga pendiri Crocodilian.com, dalam studi terpisah menjelaskan bahwa buaya memproduksi airmata sepanjang waktu.
Fungsi airmata buaya sama seperti airmata manusia, yakni untuk melumasi mata. Ini bahkan lebih relevan bagi buaya karena mereka memiliki kelopak mata ketiga yang dikenal sebagai membran pengelip.
Studi yang dilakukan Universitas Florida juga mengatakan bahwa tak mudah mengamati airmata buaya yang tumpah. Ini karena mereka sering menghabiskan waktu di bawah permukaan air, dan juga karena mereka terlalu agresif saat berada di atas tanah.
Di dalam kehidupan buaya yang cukup keras, airmata juga memainkan peran perlindungan.
"Ada banyak drama yang terjadi di sekitar kepala saat mereka menelan mangsa," kata Vliet. Saat menelan mata buaya juga mundur ke arah kepala.
"Mereka mungkin hanya mencoba untuk melindungi mata,” kata Vliet lagi.
=====
Copas
http://www.umatuna.com/2016/12/ternyata-buaya-menangis-saat-menelan-mangsa.html
Jujurlah
Ada 4 orang mahasiswa yang telat ikut ujian semester karena
bangun kesiangan. Mereka lantas menyusun strategi yang sama agar
kompak saat memberi alasan pada dosen agar dosen berbaik hati memberi
kesempatan kepada mereka untuk ujian susulan.
Berikut ini alasan yang akhirnya mereka kemukakan pada dosen.
Berikut ini alasan yang akhirnya mereka kemukakan pada dosen.
Mahasiswa A : “Pak, maaf kami telat ikut ujian
semester.”
Mahasiswa B : “Iya pak. Kami berempat naik angkot yang
sama dan ban angkotnya meletus.”
Mahasiswa C : “Iya kami kasihan sama supirnya….
Jadi kami bantu dia pasang ban baru.”
Mahasiswa D : “Oleh karena itu kami mohon kebaikan hati
bapak untuk kami mengikuti ujian susulan.”
Sang dosen berpikir sejenak dan akhirnya memperbolehkan
mereka ikut ujian susulan.
Keesokan hari ujian susulan dilaksanakan, tapi keempat
mahasiswa diminta mengerjakan ujian di 4 ruangan yang berbeda.
“Ah, mungkin biar tidak menyontek,” pikir para mahasiswa.
Dan ternyata ujiannya cuma ada 2 soal. Dengan ketentuan mereka baru diperbolehkan
melihat dan mengerjakan soal kedua setelah selesai mengerjakan soal pertama.
Soal pertama sangat mudah dengan bobot nilai 10. Keempat
mahasiswa mengerjakan soal ujian pertama dengan senyum-senyum. Pada saat
membaca soal kedua dengan bobot nilai 90. Keringat dingin mereka pun mulai
bercucuran. Karena di soal kedua tertulis dengan jelas pertanyaan:
“Kemarin, ban angkot sebelah mana yang meletus..?"
***
Hikmah: Sekecil apapun kebohongan yang kita lakukan tetap akan terungkap. Dan sebuah kebohongan bukanlah solusi untuk menyelesaikan masalah namun akan menambah masalah. Dan kejujuran itu lebih indah. Setidaknya akan membuat kita lega setelah jujur.
=====
Copas
https://kisah-yang-penuh-hikmah.blogspot.co.id/2015/02/jujur-ternyata-lebih-baik.html
Laki-laki Yang Tak Punya E-mail
seorang laki-laki pengangguran yang melamar pekerjaan dengan
posisi sebagai 'office boy' di perusahaan Microsoft. Manajer SDM disana pun
segera mewawancarainya. Berikut kutipan pembicaraan mereka:
Manajer SDM: "Silahkan isi alamat e-mail Anda dan saya
akan mengirimkan aplikasi untuk diisi, juga tanggal ketika Anda dapat mulai
bekerja."
Lelaki pengangguran: "Tapi saya tidak punya komputer bahkan email, maafkan saya.."
Manajer SDM: "Jika anda tidak memiliki email, itu berarti anda tidak memenuhi persyaratan untuk bisa diterima di perusahaan ini"
Lelaki pengangguran: "Tapi saya tidak punya komputer bahkan email, maafkan saya.."
Manajer SDM: "Jika anda tidak memiliki email, itu berarti anda tidak memenuhi persyaratan untuk bisa diterima di perusahaan ini"
Lelaki pengangguran itu sangat sedih sekali, dia tidak tahu
apa yang harus dilakukan. Dengan hanya memiliki uang $10 di saku, ia lalu
memutuskan untuk pergi ke pasar dan membeli 10 kg tomat. Dia kemudian menjual
kembali tomat tersebut dengan berkeliling dari rumah ke rumah. Dalam waktu
kurang dari dua jam, dia ternyata berhasil melipatgandakan modalnya.
Keesokan harinya ia mengulangi penjualannya dengan berkeliling dan pulang dengan uang $60. Lelaki itu menyadari bahwa ia bisa bertahan hidup dengan berjualan tomat dan dia mulai untuk pergi berjualan tomat setiap hari dan sering pulang larut malam mendagangkan jualannya. Hari demi hari uang keuntungan yang didapat dua kali lipat atau tiga kali lipat dalam penjualannya sehari-hari.
Tak lama, ia kemudian bisa membeli mobil, truk dan kemudian ia mempunyai armada kendaraan pengiriman sendiri. 5 tahun kemudian, orang itu menjadi salah satu pengusaha food retailer terbesar di Amerika Serikat. Ia mulai merencanakan masa depan keluarganya dan memutuskan untuk memiliki asuransi jiwa. Dia memanggil broker asuransi dan memilih rencana perlindungan. Berikut percakapan mereka:
Broker: "Pak, boleh minta email yang akan dipakai untuk keperluan asuransi?"
Pria sukses: "Aku tidak punya email"
Broker: "Bapak tidak memiliki email, namun telah berhasil membangun sebuah imperium perusahaan bisnis. Dapatkah bapak membayangkan apa yang akan terjadi jika bapak memiliki email?"
Pria sukses: Pria itu berpikir sejenak lalu kemudian menjawab "Ya, aku akan menjadi seorang `Office Boy` di perusahaan Microsoft"
Keesokan harinya ia mengulangi penjualannya dengan berkeliling dan pulang dengan uang $60. Lelaki itu menyadari bahwa ia bisa bertahan hidup dengan berjualan tomat dan dia mulai untuk pergi berjualan tomat setiap hari dan sering pulang larut malam mendagangkan jualannya. Hari demi hari uang keuntungan yang didapat dua kali lipat atau tiga kali lipat dalam penjualannya sehari-hari.
Tak lama, ia kemudian bisa membeli mobil, truk dan kemudian ia mempunyai armada kendaraan pengiriman sendiri. 5 tahun kemudian, orang itu menjadi salah satu pengusaha food retailer terbesar di Amerika Serikat. Ia mulai merencanakan masa depan keluarganya dan memutuskan untuk memiliki asuransi jiwa. Dia memanggil broker asuransi dan memilih rencana perlindungan. Berikut percakapan mereka:
Broker: "Pak, boleh minta email yang akan dipakai untuk keperluan asuransi?"
Pria sukses: "Aku tidak punya email"
Broker: "Bapak tidak memiliki email, namun telah berhasil membangun sebuah imperium perusahaan bisnis. Dapatkah bapak membayangkan apa yang akan terjadi jika bapak memiliki email?"
Pria sukses: Pria itu berpikir sejenak lalu kemudian menjawab "Ya, aku akan menjadi seorang `Office Boy` di perusahaan Microsoft"
=====
Copas
https://kisah-yang-penuh-hikmah.blogspot.co.id/2015/03/kisah-lelaki-yang-tidak-memiliki-email.html
Minggu, 15 Januari 2017
Naik Kelas
Oleh:Bahagia
Suatu hari beberapa pemuda Quraisy mendatangi Aisyah sambil
tertawa. Waktu itu, Ummul Mukminin sedang di Mina. Lalu, Aisyah bertanya,
"Apakah yang membuat kalian tertawa?". "Si fulan jatuh
tersungkur karena tersandung tali kemah sehingga lehernya atau matanya hampir
saja melayang.
Aisyah berkata, "Janganlah kalian tertawa! Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, 'Setiap orang Islam yang terkena duri atau lebih besar dari itu, niscaya ditulikan (dinaikkan) untuknya satu derajat, dan dihapuskan untuknya satu dosa'." (HR Imam Muslim).
Pertama, seseorang yang dapat musibah tidak terus berduka. Musibah itu datang karena Allah sayang kepadanya. Allah ingin orang itu menjadi manusia yang kuat dan lebih tabah. Saat bersabar maka di situlah orang tadi naik pangkat.
Kedua, mengajarkan hidup agar lebih baik. Seseorang yang terkena musibah tidak mudah terkena musibah lagi. Musibah yang pernah dia alami akan menjadi pelajaran untuk kemudian merenungkan diri. Mencari jalan keluar atas musibah dan mengaca diri tentang perilaku apa yang dia lakukan.
Misalkan, terkena bencana alam. Orang harus mencari tahu akar masalah dari bencana. Apakah karena murni kerusakan alam atau perilaku manusia. Saat bencana terjadi karena perilaku manusia maka manusia sejatinya memperbaiki ekologis agar tidak menimbulkan bencana.
Ketiga, tumbuh rasa kepedulian kepada orang lain. Seseorang yang sudah pernah mengalami bencana senantiasa akan sayang kepada saudaranya. Apalagi, kalau saudaranya terkena musibah. Dia akan membantu saudaranya. Memberikan tempat tinggal dan bantuan makanan, minuman, serta pakaian.
Keempat, menumbuhkan perilaku adaptasi dan antisipasi terhadap bencana. Adaptasi dapat diartikan penyesuaian diri terhadap bencana. Pemerintah akan bersiap untuk melakukan adaptasi kepada daerah yang rawan bencana. Mempersiapkan semua perlengkapan dan membangun berupa bangunan fisik yang bisa tahan jika terjadi bencana alam.
Selain itu, dapat dilakukan dengan membangun bendungan untuk menampung air hujan, jika bencana itu bencana banjir. Masyarakat pun lebih berantisipasi sebelum terjadi bencana.
Kelima, menumbuhkan pendidikan bencana. Seseorang yang mengalami bencana akan memperkuat nilai keimanannya. Apalagi, kalau dia tahu bahwa dirinya yang salah. Misalkan, salah memilih pemimpin. Pemimpin tidak beriman sehingga kebijakannya menimbulkan bencana ekologis dan sosial. Pilihlah pemimpin yang beriman, jujur, berani, adil, cerdas, bertanggung jawab, dan imannya bagus.
Terakhir, mengajarkan agar hidup selalu berjamaah. Manusia secara individual akan kesulitan saat tertimpa bencana. Nilai kebersamaan dapat mengurangi beban berat yang sedang dipikul. Pegertian berjamaah di sini sangat luas. Mulai dari berjamaah saat shalat sampai berjamaah dalam aktivitas sosial. Ketahanan sosial ini yang kemudian membantu masyarakat untuk hidup lebih baik.
Aisyah berkata, "Janganlah kalian tertawa! Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, 'Setiap orang Islam yang terkena duri atau lebih besar dari itu, niscaya ditulikan (dinaikkan) untuknya satu derajat, dan dihapuskan untuknya satu dosa'." (HR Imam Muslim).
Pertama, seseorang yang dapat musibah tidak terus berduka. Musibah itu datang karena Allah sayang kepadanya. Allah ingin orang itu menjadi manusia yang kuat dan lebih tabah. Saat bersabar maka di situlah orang tadi naik pangkat.
Kedua, mengajarkan hidup agar lebih baik. Seseorang yang terkena musibah tidak mudah terkena musibah lagi. Musibah yang pernah dia alami akan menjadi pelajaran untuk kemudian merenungkan diri. Mencari jalan keluar atas musibah dan mengaca diri tentang perilaku apa yang dia lakukan.
Misalkan, terkena bencana alam. Orang harus mencari tahu akar masalah dari bencana. Apakah karena murni kerusakan alam atau perilaku manusia. Saat bencana terjadi karena perilaku manusia maka manusia sejatinya memperbaiki ekologis agar tidak menimbulkan bencana.
Ketiga, tumbuh rasa kepedulian kepada orang lain. Seseorang yang sudah pernah mengalami bencana senantiasa akan sayang kepada saudaranya. Apalagi, kalau saudaranya terkena musibah. Dia akan membantu saudaranya. Memberikan tempat tinggal dan bantuan makanan, minuman, serta pakaian.
Keempat, menumbuhkan perilaku adaptasi dan antisipasi terhadap bencana. Adaptasi dapat diartikan penyesuaian diri terhadap bencana. Pemerintah akan bersiap untuk melakukan adaptasi kepada daerah yang rawan bencana. Mempersiapkan semua perlengkapan dan membangun berupa bangunan fisik yang bisa tahan jika terjadi bencana alam.
Selain itu, dapat dilakukan dengan membangun bendungan untuk menampung air hujan, jika bencana itu bencana banjir. Masyarakat pun lebih berantisipasi sebelum terjadi bencana.
Kelima, menumbuhkan pendidikan bencana. Seseorang yang mengalami bencana akan memperkuat nilai keimanannya. Apalagi, kalau dia tahu bahwa dirinya yang salah. Misalkan, salah memilih pemimpin. Pemimpin tidak beriman sehingga kebijakannya menimbulkan bencana ekologis dan sosial. Pilihlah pemimpin yang beriman, jujur, berani, adil, cerdas, bertanggung jawab, dan imannya bagus.
Terakhir, mengajarkan agar hidup selalu berjamaah. Manusia secara individual akan kesulitan saat tertimpa bencana. Nilai kebersamaan dapat mengurangi beban berat yang sedang dipikul. Pegertian berjamaah di sini sangat luas. Mulai dari berjamaah saat shalat sampai berjamaah dalam aktivitas sosial. Ketahanan sosial ini yang kemudian membantu masyarakat untuk hidup lebih baik.
=====
Copas
http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/17/01/09/ojh94h313-naik-kelas
Sabtu, 14 Januari 2017
Ayah dan Ibu Kekasihku
Oleh: Salim A Fillah
JIKA beliau ﷺ bicara tentang insan yang amat
dicintainya, “Dia di neraka”, dapatkah sejenak kita bayangkan apa yang
dirasanya saat kalimat itu bergema?
Jika suatu kali Al Musthafa ﷺ yang memang tak diizinkan
berdusta harus mengatakan pada seorang sahabat yang bersedih, “Ayahku dan
Ayahmu di neraka”, untuk menunjukkan tenggangrasa terdalam dari jiwanya yang
lembut, dapatkah kita sejenak menempatkan hati ini ke dalam dada beliau ﷺ?
Dan jika perbedaan pendapat para ‘ulama tentang siapa yang
dimaksud “Ayah” dalam hadits itu kita jadikan sebagai sumber perpecahan padahal
beliau ﷺ berharap dapat menyambut dan menghulurkan minum pada semua ummat di
telaganya, apa kiranya yang akan beliau ﷺ katakan?
Kumohon, hentikan.
Dengan penuh cinta Imam An Nawawi dan para ‘ulama lain telah
mengajukan hujjahnya . Jika benar bahwa kedua orangtua Rasulillah ﷺ di dalam
neraka, maka bukankah yang benar tak selalu harus diungkit senantiasa?
Bukankah Abu Dzar benar ketika memanggil Bilal, “Hai anak
budak hitam!”? Tapi bukankah dia ditegur Sang Nabi ﷺ dengan tudingan ke wajah,
“Kau, dalam dirimu masih terdapat jahiliah?” Dan
Abu Dzarpun menyungkur ke
tanah, menaburkan pasir ke wajah, serta meminta Bilal menginjak kepalanya, yang
tentu ditolak oleh si kebanggaan Habasyah.
Sebagaimana pula dengan penuh ta’zhim Imam As Suyuthi telah
berpanjang menjelaskan masa fatrah dan kedudukan surgawi Ayah-Bunda Rasulillah ﷺ.
Dan bahwa sebagaimana Azar ternyata adalah Paman Ibrahim, tak dapat tempatkah
ta’wil bahwa “Ayah'” di dalam hadits itu adalah orang yang membesarkan Al
Musthafa sejak dia ditinggal Kakeknya, yang memanggilnya “Anakku” dan lebih
mencintai beliau dibanding putra-putra kandungnya, yang melindunginya dengan
segala punya?
Kumohon hentikan. Di kala hujjah sudah bertemu hujjah,
sesungguhnya hujat tiada lagi mendapat tempat. Perbedaan ini jangan menghalangi
kita dari ilmu, ‘ulama, dan mencintai guru-guru.
Apalagi ini tentang Ayah-Ibu Kekasihku.
Bukan, bukan karena engkau berpegang pada sesuatu yang benar
lalu engkau tercela. Sebab memang yang benar lebih berhak untuk dihiasi akhlaq
mulia. Izinkan aku sejenak mengajakmu berkaca, kepada para salafush shalih
dalam menakar cinta.
“Sungguh keislamanmu wahai Paman Rasulillah ﷺ”, ujar ‘Umar
kepada ‘Abbas ibn ‘Abdil Muthalib saat mereka bersua menjelang Fathu Makkah,
“Lebih aku cintai dari keislaman Al Khaththab ayahku.”
Ini bukan karena cintanya pada sang Ayah kurang; ini semata
sebab ‘Umar mengukur sikapnya dari hati manusia yang paling dicintainya,
Muhammad ﷺ. ‘Abbas adalah Paman yang paling mengasihi Rasulullah setelah Abu
Thalib.
“Wahai Ayahanda”, ujar ‘Abdullah ibn ‘Umar kepada bapaknya
kelak, “Mengapa bagian Usamah ibn Zaid kautetapkan lebih banyak daripada bagian
Ananda, padahal kami berjihad bersama di berbagai kesempatan?”
“Karena”, ujar Sayyidina ‘Umar sembari tersenyum sendu,
“Ayah Usamah, Zaid ibn Haritsah, lebih dicintai Rasulullah ﷺ daripada Ayahmu.”
Lagi-lagi ‘Umar mengukur sikapnya dari hati yang paling dia muliakan, hati
Muhammad ﷺ.
Di kala Rasulullah ﷺ memasuki Makkah dan Masjidil Haram, Abu
Bakr datang menuntun ayahnya kepada beliau. Ketika Sang Nabi ﷺ melihat Abu
Quhafah yang sepuh lagi telah buta, beliau bersabda, ‘Ya Aba Bakr, kenapa
engkau tidak silakan ayahmu duduk di rumah dan aku sajalah yang datang pada
beliau?’
“Ya Rasulallah”, jawab Ash Shiddiq, “Ayahku lebih berhak
berjalan kepadamu daripada engkau datang kepadanya’. Rasulullah ﷺ mendudukkan
Abu Quhafah di depan beliau, mengusap dadanya, dan bersabda kepada-nya, ‘Masuk
Islamlah’. Abu Quhafah pun masuk Islam.
Tepat di saat Abu Quhafah menghulurkan tangan untuk berjanji
setia pada Rasulillah ﷺ, Abu Bakr malah menangis. Sesenggukan sedunya hingga
mengguncang bahu. Semua yang hadir bertanya-tanya. Bukankah di hari itu, Abu
Bakr harusnya berbahagia menyaksikan keislaman ayahnya? Bukankah suatu
kesyukuran besar menyaksikan orang yang kita kasihi dibuka hatinya oleh Allah
untuk menerima hidayah?
Namun Ash Shiddiq yang agung berkata pada Sang Nabi ﷺ, “Demi
Allah. Aku lebih suka jika tangan Pamanmu ya Rasulallah, menggantikan
tangannya, lalu dia masuk Islam dan dengan begitu Allah membuatmu ridha.”
Paman yang dimaksud tentulah Abu Thalib. Dia yang telah
memberikan seluruh daya upaya di sisa usianya untuk membela dakwah keponakan
tersayangnya, namun hidayah tak menjadi haknya. Betapa mengerti Abu Bakr akan
isi dada Rasulillah ﷺ. Sahabat sejati, selalu mengukur sikapnya dari hati sang
kekasih.
Lalu kini, jika kita menyebut-nyebut dengan santainya
tentang neraka atau surgakah orang yang disayanginya, tak hendakkah kita
sejenak bertanya, “Di mana kita dari Adab Abu Bakr dan ‘Umar itu dalam menakar
cinta?”
Mari belajar menghadirkan sudut pandang Rasulillah ﷺ, bukan
hanya pengetahuan tapi juga rasa; dalam setiap isi dada, kata-kata, dan
perilaku kita. Inilah jalan sunnah yang penuh cinta.*
diambil di FB: Salim A Fillah dan Twitter: @salimafillah
=====
Copas
http://www.hidayatullah.com/kolom/salam-dari-salim/read/2016/08/05/98866/ayah-dan-ibu-kekasihku.html
Mencintai Rakyatnya Melebihi Dirinya
Kota Madinah masih gelap. Diselimuti malam. Malam masih
belum mulai beranjak pagi. Suasananya sepi. Penduduknya terlelap oleh buaian
tidur. Hanya suara angin gurun pasir menerpa pohon dan bangunan disertai udara
dingin yang menusuk.
Seorang laki-laki berjalan sendirian dikegelapan. Menelusuri
lorong-lorong rumah penduduk Madinah. Mungkin ini tak lazim. Tak lazim bagi
orang yang tak memiliki tujuan. Langkah kakinya terus menembus kegelapan malam.
Tak menghiraukan dinginnya udara malam. Apa yang dicari laki-laki itu? Adakah
malam itu begitu penting bagi laki-laki itu? Malam terus beranjak. Sampai
laki-laki itu berhenti dan berdiri di dekat sebuah rumah yang kecil.
Laki-laki itu mendengar suara wanita. Dialog antara ibu dan
anaknya. Wanita tua itu menyuruh anaknya mencampur susu yang akan dijual dengan
air. “Ibunda. Amirul Mu’minin melarang perbuatan seperti itu”, tukas anaknya.
“Tetapi, Amirul Mu’minin tidak ada bersama kita”, sahut ibunya. “Kalaupun
Amirul Mu’minin tidak melihat kita, bukankah Allah selalu mengawasi kita”,
tegas anaknya. Laki-laki yang berdiri dekat rumah itu tercenung, ketika ia
mendengar dialog ibu dengan anaknya.
Laki-laki yang berjalan digelapan malam, dan menelusuri
lorong-lorong kota Madinah, tak lain adalah Khalifah Umar Ibn Kaththab. Ketika
orang-orang terlelap tidur dan istirahat di malam hari, justru ia mengelilingi
Madinah, ingin mengetahui keadaan rakyatnya. Tak puas hanya dengan laporan para
pejabatnya. Khalifah Umar ingin melihat langsung keadaan rakyatnya. Masih
adakah rakyatnya yang tak dapat tidur di malam hari, karena perutnya lapar?
Adakah rakyat yang memerlukan bantuan? Wanita-wanita tua, janda, dan anak-anak
yatim, tak boleh mereka lapar. Umar rela tak tidur di malam hari. Ia takut
kalau-kalau rakyatnya ada yang kelaparan.
Khalifah Umar Ibn Kaththab yang sangat mencintai rakyatnya
itu, pikirannya terus dibayangi dialog antara ibu dengan anaknya. Umar
benar-benar tersentuh ucapan anak perempuan itu. Kemudian, di pagi hari ia
mengumpulkan seluruh anak laki-lakinya, dan menceritakan perihal dialog antara
ibu dengan anaknya, yang ia dengar kepada anak-anaknya, ketika ia melakukan
kunjungan ke rumah-rumah penduduk di malam hari. Umar menyuruh di antara anak
laki-lakinya menikahi anak perempuan itu. Lalu, salah seorang anaknya bernama
Ashim, menunjukkan tangan, menyatakan keinginannya menikahi anak wanita itu
“Kalau begitu, pergilah dan nikahlah dengannya. Alangkah baiknya engkau datang
dengan seorang penunggang kuda yang menguasai bangsa Arab”, ujar Umar.
Ashim menikahi anak perempuan yang bertaqwa dan berbakti
itu.Kedua suami-isteri itu menjalani kehidupannya. Lalu, Allah azza wa jalla
menakdirkan keduanya mempunyai seorang anak, anak wanita yang diberi nama
Layla. Anak perempuan begitu cantik dan lembut. Selanjutnya, Layla menapaki
kehidupan, dan mendapat asuhan dan bimbingan dari kedua orang tuanya, yang
shaleh, putra Umar Ibn Kaththab. Ketika, Layla mencapai usia nikah, ia dilamar
oleh Abdul Aziz bin Marwan bin Hakam, seorang pembesar dari bani Marwan setelah
saudaranya Abdul Malik bin Marwan. Usai akan nikah, Layla dibawa ke istana oleh
suaminya, Abdul Aziz, dan bergabunglah antara kemuliaan dan ketaqwaan. Sepasang
suami-istteri (Layla-Abdul Aziz) oleh Allah azza wa jalla, dianugerahi seorang
anak laki-laki yang lembut, cerah, tampan, dan amat menyenangkan yang
memandang. Mereka sepakat memberi nama dengan nama kakeknya al-Faruq Umar Ibn
Khaththab radhiyallahu ‘anhu.Akhirnya, di pelataran kehidupan dunia ini, lahir
seorang anak laki-laki bernama Umar bin Abdul Aziz, yang terhimpun pada dirinya
kemulian dari dua orang, ayah dan ibu, yang masih keturunan Umar Ibn Kaththab.
Suatu hari, Umar Ibn Kaththab bangun tidur dengan perasaan
yang bahagia. Lalu, ia berkata:”Alangkah bahagianya sekiranya ada dari
keturunanku yang mengisi dunia ini dengan keadilan, sebagaimana dunia ini
dipenuhi dengan kedzaliman”, gumamnya. Dalam perjalanan hidupnya, pemuda Umar
bin Abdul Aziz, tumbuh di tengah keharuman iman, dan kesemerbakan ilmu. Kala
itu, kota Madinah yang suci, masih ada Sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa
salam. Sehingga, Umar bin Abdul Aziz, masih sempat menimba ilmu dari mereka.
Umar bin Abdul Abdul Aziz masih bertemu dengan Abdullah bin Umar radhiyallahu
‘anhuma. “Wahai ibuku, aku ingin menjadi seperti pamanku – yakni Abdullah bin
Umar rahdiyallahu ‘anhuma”. Mendengar ucapan anaknya itu, betapa bahagia
ibunya. “Engkau tentu akan menjadi seperti pamanmu. Engkau tentu akan menjadi
seperti dia!”, jawab ibunya.
Ketika itu, Umar bin Abdul Aziz menjadi Gubernur Madinah,
dan ruangan tamunya, selalu ditepnuhi oleh orang-orang yang shaleh, para ulama
yang jujur dan ahli syariat. Ruangannya selalu diisi dengan dzikrullah dan
diskusi ilmu yang bermanfaat. Sampai, suatu hari pelayannya mengantarkan hendak
memukul pelayannya, sebelum dipukul pelayan itu berucap: “Wahai Umar! Ingatlah
kepada malam yang paginya menjadi kiamat”, ucap sang pelayan. Kala mendengar
ucapan pelayan itu, Umar bin Abdul Aziz, lalu berubah total. Seluruh hidup
berubah. Ia tinggalkan segala bentuk kemewahan. Makanan yang lezat, pakaian
yang indah, yang terbuat dari sutera, ia tinggal kenikmatan duniawi.
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah meriwayatkan sebuah
hadist: “Sesungguhnya, Allaha Tabaraka wa Ta’ala akan membangkitkan pada setiap
seratus tahun oran yang memperbaharui (mujaddid) terhadap agama bagi umat ini”.
Selanjutnya, Imam Ahmad menyatakan: “Kami melihat seratus tahun pertama,
ternyata Umar bin Abdul Aziz”, tambahnya.
Umar telah menthalak dunia dengan talak tiga (talak ba’in).
Ia telah meninggalkan sebab yang mengantarkannya kepada kesenangan dunia. Ia
telah memuntahkannya. Ia tidak membuat bangunan, dan tidak menyusun batu bata
di atas batu bata yang lain. Ia orang yang sangat lembut hatinya. Lekuk matanya
terus mengalir bulir-bulir air mata. Umar selalu inga akan kematiannya. Muqatil
bin Hayyan rahimahullah bercerita: “Aku pernah shalat di belakang Umar bin
Abdul Aziz. Ketika ia membaca ayat “Dan berhentikanlah mereka. Sesungguhnya,
mrekaakan ditanya “. Dan, ayat itu diulang-ulang, sampai Umar tak mampu
melanjutkan bacaannya, karena menangis.
Pemerintahan Umar bin Abdul Aziz sangatlah pendek. Hanya
kurang dari dua tahun. Tapi, seluruh negeri mendapatkan keadilan. Bahkan,
ketika menjelang usainya ramadhan, tak lagi ditemukan di seluruh negeri,
rakyatnya yang berhak mendapatkan zakat. Umar bin Abdul Aziz adalah khalifah
yang alim, adil, dan ahli zuhud.
Ketika ia meninggal hanya meninggalkan dua potong baju, yang
ia pakai, dan sebuah hambal, yang ia gunakan menerima tamu. Padahal, dia
seorang khalifah. Wallahu ‘alam.
=====
Copas
https://www.eramuslim.com/peradaban/bercermin-salaf/mencintai-rakyatnya-melebihi-dirinya.htm#.WHoYmxt97IU
Bagi Muslim, Hari Akhir Bukan Ramalan, Tapi Keyakinan yang Wajib Diimani
Pada suatu hari setelah memimpin sholat subuh Nabi
Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam langsung naik ke atas mimbar
dan menyampaikan ceramah panjang hingga datangnya waktu zuhur. Sesudah
beliau selesai memimpin sholat zuhur, beliau lalu naik kembali ke atas mimbar
untuk menyampaikan ceramah hingga datangnya waktu asar. Lalu sesudah
memimpin sholat asar beliau langsung kembali ke atas mimbar menyampaikan
ceramah hingga magrib. Sesudah mengimami sholat magrib beliau tidak naik
lagi ke atas mimbar.
Para sahabat yang hadir menceritakan bahwa pada hari di mana
Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam mendadak menyampaikan
semacam daurah seharian penuh itu beliau panjang lebar menjelaskan mengenai
apa-apa yang bakal berlaku atau terjadi hingga datangnya hari Akhir atau hari
Kiamat. Begitu pentingnya urusan hari Akhir ini sehingga beliau memerlukan seharian
penuh untuk menjelaskan tanda-tanda akhir zaman menjelang datangya hari Kiamat
kepada para sahabatnya. Lalu mereka yang hadir berkata: ”Sesudah wafatnya Nabi
Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam setiap aku bertemu dengan suatu
peristiwa yang merupakan tanda akhir zaman maka akupun teringat ceramah panjang
nabi hari itu. Persis seperti orang yang bertemu dengan orang yang sudah lama
berpisah. Sehingga saat bertemu, segera teringat kembali wajahnya.”
Memang, sudah semestinyalah kita ummat Islam menghayati
betapa pentingnya urusan mengimani dan mempersiapkan diri menghadapi hari
Akhir. Sebab Allah subhaanahu wa ta’aala sendiri di dalam Al-Qur’an
mengkondisikan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam agar tidak
menganggap bahwa hari Akhir atau Hari Kiamat atau hari Berbangkit itu masih
jauh.
يَسْأَلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِ قُلْ إِنَّمَا
عِلْمُهَا عِندَ اللَّهِ
وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيباً
وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيباً
Melalui ayat di atas Allah subhaanahu wa ta’aala
mengkondisikan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam untuk menghayati
bahwa hari Akhir atau hari Kiamat sudah dekat. Oleh sebab itu Nabi Muhammad shollallahu
’alaih wa sallam juga mengkondisikan para sahabatnya dan kita semua selaku
ummatnya untuk menghayati bahwa hari Akhir sudah dekat dan tidak lama lagi akan
segera datang.
عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ
قَالَ وَضَمَّ السَّبَّابَةَ وَالْوُسْطَى (مسلم)
قَالَ وَضَمَّ السَّبَّابَةَ وَالْوُسْطَى (مسلم)
Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ’anhu berkata:
Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Aku dan hari kiamat diutus
(berdampingan) seperti ini.” Anas berkata:”Dan beliau menghimpun jari tengah
dan jari telunjuknya.” (HR Muslim 14/193)
Sehingga pernah diriwayatkan bahwa pada suatu hari seorang
sahabat melihat di kejauhan ufuk ada asap yang mengepul. Maka sahabat tersebut
langsung keliling ke rumah para sahabat lainnya menggedor pintu rumah mereka
seraya berteriak:
الدخان الدخان
“Asap…! Asap…!”
Artinya, pada saat sahabat ini melihat asap tersebut, maka
ia teringat penjelasan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam mengenai
salah satu tanda besar menjelang datangnya hari Kiamat adalah bila sudah
terlihat asap mengepul. Jika lima belas abad yang lalu saja sahabat telah
sedemikian seriusnya mensikapi tanda-tanda akhir zaman, bagaimana lagi
sepatutnya kita yang hidup di zaman ini?
Bahkan sedemikian pentingnya urusan hari Akhir ini sehingga
dari enam rukun iman yang kita pelajari sejak masih SD, maka beriman kepada
hari Akhir adalah yang paling sering disebut berpasangan dengan beriman kepada
Allah subhaanahu wa ta’aala. Di dalam Al-Qur’an maupun
Hadits sangat
sering kita dapati hal ini.
ذَلِكُمْ يُوعَظُ بِهِ مَن كَانَ يُؤْمِنُ
بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ
مَخْرَجاً
“Demikianlah diberi pengajaran dengannya orang yang beriman
kepada Allah dan hari akhir. Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah
niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.”(QS 65:2)
Bahkan dalam satu hadits di bawah ini sampai tiga kali Nabi
menyebutkan iman kepada Allah subhaanahu wa ta’aala bersamaan dengan
iman kepada hari Akhir.
حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ كَانَيُؤْمِنُ
بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ وَمَنْ
كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِفَلْيُكْرِمْ جَارَهُ وَمَنْ
كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
Bersabda Rasulullah saw: “Barangsiapa beriman kpd Allah
dan Hari Akhir hendaklah bicara yang baik atau diam. Dan barangsiapa beriman
kpd Allah dan Hari Akhir hendaklah menghormati tetangganya. Dan
barangsiapa beriman kpd Allah dan Hari Akhir hendaklah menghormati
tamunya.” (HR Bukhari-Muslim)
Ayat dan hadits seperti di atas banyak kita temui di dalam
Al-Qur’an dan As-Sunnah sehingga kita bisa sampai pada suatu kesimpulan bahwa tingkat
pentingnya mengimani hari Akhir setara atau sederajat dengan iman kepada Allah
subhaanahu wa ta’aala
“Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit.
Katakanlah, “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi
Allah.” Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari berbangkit itu
sudah dekat waktunya.”(QS Al-Ahzab 63)
=====
Copas
https://www.eramuslim.com/suara-langit/kehidupan-sejati/pentingnya-beriman-kepada-hari-akhir.htm#.WHoWKxt97IU
Setelah meninggalkan Riba, Pengusaha Muslim Ini Akhirnya Dapat Melunasi Hutang 40 Milyar
Elang Gumilang, tidak berubah sejak 8 tahun lalu saya
mengenalnya, tetap bersahaja.. Setiap yang keluar dari mulutnya selalu
bermakna.
Sudah enam kali saya tidur sekamar dengannya, ketika dulu
kami mengisi seminar bareng di berbagai kota. Ngobrol hingga larut malam,
mendengar visinya tentang ekonomi Islam yang selalu membuat saya mendengkur
duluan. Ilmunya melesat jauh di depan, visinya sudah 100 km ketika saya masih 1
km.
Tiap pagi di kamar dia yang minta ijin sholat dhuha duluan,
khusuk diatas sajadah kecilnya. Sejak remaja sudah menempa hidupnya jualan
donat, jualan minyak, sampai ketika kuliah IPB, tidak malu jualan lampu di
kampusnya. Semua jadi ilmu yang menempa hidupnya.
Elang Gumilang, yang namanya ketika dipanggil sebagai
pemenang pertama ajang bergengsi entrepreneur 2007, dia langsung sujud syukur
di atas panggung, disaksikan 2000 lebih pasang mata di JCC, di usianya yang
baru 22 tahun sudah berbisnis property dan membangun ratusan rumah sederhana
untuk masyarakat bawah di Bogor.
Selalu menganggap dirinya orang kampung, ketika dulu harus
tidur dipinggir sumur, bersebelahan dengan knalpot motor, akhirnya dia sering
tidur di masjid agar dapat tempat yang lebih lega, sekaligus dia bisa
mewakafkan waktunya disela kuliah membersihkan masjid.
Obrolan panjang kami berlanjut kemarin siang di kantornya
yang megah di pinggiran kota Bogor.
“Sejak bisnis dulu saya mengandalkan hutang bank
konvensional mas, bertahun-tahun gak terasa hutang saya 40 Milyar. Sebulan saya
harus membayar 600 juta ke bank, dan hutang pokoknya hanya berkurang sebagian,
selebihnya adalah bunga…” Dia mulai bercerita. Saya mulai memasang frekuensi
telinga di radar paling tinggi untuk menangkap semua ceritanya.
“Kita yang terus menggerakkan bisnis ini, susah payah, tapi
ketika kita belum ada penjualan bank tidak mau tau, kita tetap dipaksa harus
membayar. Setiap saya lihat laporan keuangan, hutang saya tidak berkurang
banyak, beban bunganya justru makin bertambah.” Lanjutnya.
“Akhirnya saya memutuskan harus segera meninggalkan riba
ini, mencari cara lain berbisnis tanpa hutang bank..”
“Proses detailnya gimana Lang?” Tanya saya.
“Tidak semua langsung lunas mas, saya pun bertahap
satu-satu. Pertama: saya memindahkan hutang saya di Bank Syariah, dengan akad
setiap bulan bunganya tidak lebih besar dari pokoknya, dan ternyata bisa, tiap
bulan pokok hutang saya terus menurun”
“Mmmmm…”
“Kedua: saya mulai fokus menggenjot penjualan rumah saya
mas, permintaan juga makin banyak, setiap ada pemasukan langsung buat
ngelunasin hutang.”
“Mmm.. Yayaya, terus?”
“Ketiga: Karena ijin sudah lengkap, tanah yang di akuisisi
juga makin bertambah, ada tawaran akuisisi proyek dari Sedco Saudi Arabia
senilai 270 Milyar mas, saya sudah tidak mau melibatkan bank. Lalu saya
menerbitkan Sukuk (Obligasi Syariah) senilai 400 Milyar. Proyek Perumahan itu
bisa senilai dua kali lipatnya kalo jadi nanti. Dan Allah benar-benar mudahkan
mas, Garuda gabung membeli sukuknya 80 Milyar, Pertamina 90 Milyar dan
lain-lain, sampai total modal 400 Milyar terkumpul, hutang saya di bank pun
sudah lunas semua.”
“Wow! Gimana sistem bagi hasilnya Lang?”
“Perjanjian sesuai DSN (Dewan Syariah Nasional) yaitu Sukuk
Ijarah (Sewa), 14% dalam tempo 2 tahun. Kalo dengan pajak, biaya2 sekitar 20%.
Jadi misal kalau Telkom membeli Sukuk saya 80 Milyar, tahun kedua akan
mendapatkan 96 Milyar.”
“Kalo misal rugi dan tidak terbayar lang?”
“Nanti asset dilelang mas, itulah adilnya sesuai syar’i,
misal semua asset laku 600 Milyar, semua pembeli sukuk akan kebagian dari total
400 Milyar + 20%nya = 480 Milyar, yang sisanya 120 Milyar itulah asset
perusahaan saya.”
“Mmmm.. Yayaya saya tambah ilmu lagi.” Saya membolak-balik
laporan penilaian asset usahanya yang sudah dibuat dan dilaporkan OJK. Tiga
tahun lalu masih diangka 11 digit, tahun ini assetnya sudah tembus 12 digit..
Saya tidak kaget.. Saya tidak iri.. Ini semua sudah seperti
yang Elang katakan jauh-jauh hari kepada saya dulu.
“Mas baca deh Quran Ali Imran 26,
Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau
berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan
dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki
dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala
kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
“Semua ini milik Allah mas, kerajaan ini milik Allah, saya
hanya mengelola saja, dan sewaktu-waktu Allah akan ambil jika Allah
berkehendak. Ketika saya mantap meninggalkan riba, Allah kasih jalan lain yang
lebih baik, asset saya tidak berkurang, justru makin bertambah..” Lanjut Elang.
Usianya masih 30 tahun sekarang, namun kemantapkan pola pikirnya
sudah sangat matang. Ketika godaan kemewahan yang datang melanda, berapa banyak
pengusaha yang tergelincir ketika tidak mampu menahan hawa nafsunya.
Kami berjalan keluar, Elang mengajak saya ke lokasi satu
perumahannya.
“Ini satu komplek termasuk rumah untuk saya dan keluarga
saya mas, itu disana nanti rumah saya berdampingan dengan bapak ibu, masjid di
tengah kompleks ini senilai 3 Milyar akan segera jadi mas, disana sudah siap
sekolah untuk anak-anak yatim dan duafa, bagian belakang adalah tempat tinggal
mereka. Sekarang 23 orang tinggal di rumah saya, besok kalo sudah jadi bisa
menampung 100 anak disini semua.”
Sore menjelang ketika saya belajar pada mantan penjual donat
ini, wajahnya makin matang namun tetap bersahaja. Ternyata Sampai sekarang puasa
senin kamis masih rutin dijalaninya. Jika dia mau, membeli Ferrari atau
Lamborghini seharga 5 Milyar cash pun dia sanggup melakukannya.
Dia memilih cukup naik Honda CRV kemana-mana, hanya mobil
biasa.. yang akan langsung berbelok ke masjid terdekat ketika panggilan adzan
terdengar di telinganya.. Subhanallah
Ditulis oleh Saptuari Sugiharto
Dipublikasikan pertama kali di Group Facebook Belajar Wirausaha Bareng Saptuari
=====
Copas
https://islamedia.id/setelah-meninggalkan-riba-pengusaha-muslim-ini-akhirnya-dapat-melunasi-hutang-40-milyar/
Jumat, 13 Januari 2017
Tiga Manusia Perusak Agama
Marilah kita simak perkataan Umar bin Khatthab radhiyallahu
‘anhu.
Diriwayatkan dari Ziyad bin Hudair, ia berkata: Umar bin
al-Khathab pernah berkata kepadaku,
هَلْ تَعْرِفُ مَا يَهْدِمُ الإِسْلاَمَ؟ قَالَ قُلْتُ :
لاَ. قَالَ : يَهْدِمُهُ زَلَّةُ الْعَالِمِ وَجِدَالُ الْمُنَافِقِ بِالْكِتَابِ
وَحُكْمُ الأَئِمَّةِ الْمُضِلِّينَ
“Tahukah engkau apa yang menghancurkan Islam?” Ia (Ziyad)
berkata, aku menjawab, “Tidak tahu.” Umar berkata, “Yang menghancurkan Islam
adalah penyimpangan/tergelincirnya orang alim, bantahan orang munafik dengan
Al-Qur’an, dan hukum (keputusan) para pemimpin yang menyesatkan.” (Riwayat
Ad-Darimi, dan berkata Syaikh Husain Asad: isnadnya shahih).
Mereka itu secara sendiri-sendiri pun sudah mengakibatkan
rusaknya agama. Terutama bagi diri masing-masing mereka. Padahal masing-masing
mampu mempengaruhi masyarakat secara luas.
Betapa besar perusakan mereka
terhadap agama.
Lebih dari itu, mereka yang masing-masing berpengaruh secara
luas itu mampu pula saling bersekongkol untuk mempengaruhi (baca menjerumuskan)
orang banyak. Lantas, betapa dahsyatnya perusakan mereka ketika mereka
bersekongkol untuk menjerumuskan manusia. Dan betapa pula bila mereka yang
sudah bersekongkol itu disponsori oleh boss anti agama (Islam), dan didukung
penyebarannya oleh media-media anti agama pula. Akan seperti apa bahayanya
dalam merusak agama.
Sebaliknya, yang mencegah perusakan hebat itu, misalnya
situs-situs dakwah, tahu-tahu secara serempak dihantam blokir oleh suatu
keputusan yang menjadikan makin leluasanya keadaan perusakan tersebut.
Hanya saja, upaya mereka itu semua pun sia-sia.
Kenapa?
Karena Allah Ta’al telah menjanjikan:
{يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ
بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ } [الصف:
8]
Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu
daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau
orang-orang kafir membencinya”[As Shaff:8]
=====
Copas
http://negaraislam.com/tiga-manusia-perusak-agama/
Rumah Tanpa Tangga
Oleh: Hasan Basri Tanjung
Dalam Kitab Suci Alquran al-Karim dijumpai profil keluarga
untuk menjadi ibrah (pelajaran). Pertama, suami yang kufur tapi istri dan
'anaknya' taat kepada Allah SWT, yakni keluarga Firaun (QS [26]:18-19, [28]:8).
Kedua, suami yang taat, tapi istri dan anaknya durhaka,
yakni keluarga Nabi Nuh AS (QS [11]:42-46, [66]:10). Ketiga, suami dan anak
yang taat tapi istri berkhianat, yakni keluarga Nabi Luth AS (QS [11]:81,
[66]:10). Keempat, suami, istri, dan anak-anaknya saleh, yakni keluarga Nabi
Ibrahim AS. Beliaulah moyang para Nabi dan Rasul, termasuk Nabi Muhammad SAW
(QS [3]:33, [37]:102, [60]:6).
Beberapa waktu lalu, saya memangkas rambut di kawasan Jalan Baru Bogor. Seorang anak perempuan berumur empat tahun tampak sedang duduk ditemani ayahnya, yang bekerja sebagai tukang pangkas. Karena penasaran, saya bertanya ke mana ibunya hingga si kecil harus berada di lingkungan kurang cocok untuk seorang anak? Dengan lirih, dia menceritakan kepiluan sejak digugat cerai istrinya.
Kepedihannya bertambah ketika si istri tidak mau mengasuh anaknya, sementara dia harus mencari nafkah di Kota Bogor. Karena tidak ada kerabat yang bisa menjaga di kampung, akhirnya terpaksalah dia membawa anaknya dan tinggal berdua di kontrakan kecil yang tidak jauh dari tempat kerjanya. Si kecil nan lugu ini pun kehilangan belai kasih sayang ibu dan kesempatan bermain dengan teman sebayanya.
Inilah Rumah tanpa Tangga, rumah tangga yang rapuh dan goyah. Kita harus menarik napas dalam-dalam ketika melihat fakta tentang rapuhnya keluarga Muslim, dengan meningkatnya kasus perceraian di berbagai daerah di Indonesia.
Padahal, keluarga adalah fondasi sebuah bangsa dan negara. Jika keluarga itu kuat, negara pun akan berjaya. Namun, jika keluarga itu rapuh, bangsa pun akan runtuh. Jika anak lahir dari keluarga yang rapuh, anak yang lahir pun lemah (dzurriyatan dhia'aafan), baik akidah, akhlak, ilmu pengetahuan, teknologi, maupun ekonominya (QS [4]:9).
Cukuplah menjadi renungan, laporan Republika (4/10/2016). Perceraian paling tinggi tahun 2015 terjadi di Indramayu, Malang, Banyuwangi, dan Surabaya. Di Indramayu, gugatan cerai sebanyak 6.804 dan talak 2.629 kasus. Di Malang, ada sebanyak 5.732 dan talak 2.842 kasus, Banyuwangi ada 5.361 dan talak 2.930 kasus, dan Surabaya sebanyak 5.172 dan talak 2.529 kasus.
Dampak setiap perceraian atau konflik keluarga sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan dan pendidikan seorang anak. Mereka sangat rentan menjadi korban eksploitasi, seperti perebutan hak asuh, pelarangan akses bertemu orang tua, penelantaran nafkah, dan korban penculikan keluarga. Sejatinya, tanggung jawab ada di pundak orang tua (terutama ayah) sebagai pemimpin dan guru utama keluarga (QS [66]:6), lalu pemerintah sebagai ulil amri membuat regulasi yang melindungi warga negara agar hidup sejahtera dan bermartabat (QS [4]:59).
Mengutip nasihat Guru Besar saya, Prof Dr KH Didin Hafidhuddin, yang mengingatkan bahwa jika hendak menghancurkan sebuah bangsa, cukup melemahkan tiga pilar penyangganya, yakni pertama, merusak sistem pendidikan dengan melemahkan posisi gurunya. Kedua, melemahkan institusi keluarga dengan menyibukkan ibu rumah tangga di luar rumah hingga tak sempat lagi mengurus anak-anaknya. Ketiga, menjauhkan umat dari para ulama dengan menimbulkan konflik sosial keagamaan.
Ketiganya sedang terjadi dan melanda masyarakat Indonesia, disadari ataupun tidak, telah menggerus kekuatan bangsa ini secara perlahan tapi pasti.
Pendidikan tauhid (QS [2]:130-133, [31];12-13), syariat, dan akhlak (QS [31]:14-19) menjadi penopang utama lahirnya generasi beriman dan beramal saleh (dzurriyahthayyibah). Sebagai orang tua, kita wajib menghantarkan buah hati membangun keluarga yang baik(khair al-usrah) yang samara (sakinah mawaddah wa rahmah).
Semoga kita sempat melihat mereka menikah dengan pasangan yang saleh, berilmu dan beradab, lalu menimang cucu pada ujung usia sebelum tiba saatnya menghadap Ilahi Rabi, Allah SWT. Amin. Allahu a'lam bish-shawab.
Beberapa waktu lalu, saya memangkas rambut di kawasan Jalan Baru Bogor. Seorang anak perempuan berumur empat tahun tampak sedang duduk ditemani ayahnya, yang bekerja sebagai tukang pangkas. Karena penasaran, saya bertanya ke mana ibunya hingga si kecil harus berada di lingkungan kurang cocok untuk seorang anak? Dengan lirih, dia menceritakan kepiluan sejak digugat cerai istrinya.
Kepedihannya bertambah ketika si istri tidak mau mengasuh anaknya, sementara dia harus mencari nafkah di Kota Bogor. Karena tidak ada kerabat yang bisa menjaga di kampung, akhirnya terpaksalah dia membawa anaknya dan tinggal berdua di kontrakan kecil yang tidak jauh dari tempat kerjanya. Si kecil nan lugu ini pun kehilangan belai kasih sayang ibu dan kesempatan bermain dengan teman sebayanya.
Inilah Rumah tanpa Tangga, rumah tangga yang rapuh dan goyah. Kita harus menarik napas dalam-dalam ketika melihat fakta tentang rapuhnya keluarga Muslim, dengan meningkatnya kasus perceraian di berbagai daerah di Indonesia.
Padahal, keluarga adalah fondasi sebuah bangsa dan negara. Jika keluarga itu kuat, negara pun akan berjaya. Namun, jika keluarga itu rapuh, bangsa pun akan runtuh. Jika anak lahir dari keluarga yang rapuh, anak yang lahir pun lemah (dzurriyatan dhia'aafan), baik akidah, akhlak, ilmu pengetahuan, teknologi, maupun ekonominya (QS [4]:9).
Cukuplah menjadi renungan, laporan Republika (4/10/2016). Perceraian paling tinggi tahun 2015 terjadi di Indramayu, Malang, Banyuwangi, dan Surabaya. Di Indramayu, gugatan cerai sebanyak 6.804 dan talak 2.629 kasus. Di Malang, ada sebanyak 5.732 dan talak 2.842 kasus, Banyuwangi ada 5.361 dan talak 2.930 kasus, dan Surabaya sebanyak 5.172 dan talak 2.529 kasus.
Dampak setiap perceraian atau konflik keluarga sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan dan pendidikan seorang anak. Mereka sangat rentan menjadi korban eksploitasi, seperti perebutan hak asuh, pelarangan akses bertemu orang tua, penelantaran nafkah, dan korban penculikan keluarga. Sejatinya, tanggung jawab ada di pundak orang tua (terutama ayah) sebagai pemimpin dan guru utama keluarga (QS [66]:6), lalu pemerintah sebagai ulil amri membuat regulasi yang melindungi warga negara agar hidup sejahtera dan bermartabat (QS [4]:59).
Mengutip nasihat Guru Besar saya, Prof Dr KH Didin Hafidhuddin, yang mengingatkan bahwa jika hendak menghancurkan sebuah bangsa, cukup melemahkan tiga pilar penyangganya, yakni pertama, merusak sistem pendidikan dengan melemahkan posisi gurunya. Kedua, melemahkan institusi keluarga dengan menyibukkan ibu rumah tangga di luar rumah hingga tak sempat lagi mengurus anak-anaknya. Ketiga, menjauhkan umat dari para ulama dengan menimbulkan konflik sosial keagamaan.
Ketiganya sedang terjadi dan melanda masyarakat Indonesia, disadari ataupun tidak, telah menggerus kekuatan bangsa ini secara perlahan tapi pasti.
Pendidikan tauhid (QS [2]:130-133, [31];12-13), syariat, dan akhlak (QS [31]:14-19) menjadi penopang utama lahirnya generasi beriman dan beramal saleh (dzurriyahthayyibah). Sebagai orang tua, kita wajib menghantarkan buah hati membangun keluarga yang baik(khair al-usrah) yang samara (sakinah mawaddah wa rahmah).
Semoga kita sempat melihat mereka menikah dengan pasangan yang saleh, berilmu dan beradab, lalu menimang cucu pada ujung usia sebelum tiba saatnya menghadap Ilahi Rabi, Allah SWT. Amin. Allahu a'lam bish-shawab.
=====
Copas
http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/17/01/10/ojk0lq313-rumah-tanpa-tangga
Takut Itu Wajar
Perang Mu’tah, adalah perang yang secara rasio tak akan
membuat manusia optimis apalagi yakin dengan kemenangan yang dijanjikan.
Bayangkan saya, jumlah pasukan Romawi yang berkumpul pada hari itu lebih dari
200.000 tentara, lengkap dengan baju perang yang gagah, panji-panji dari kain
sutra, senjata-senjata yang perkasa, lalu dengan kuda-kuda yang juga siap
dipacu.
Abu Hurairah bersaksi atas perang ini. ”Aku menyaksikan Perang Mu’tah. Ketika kami berdekatan dengan orang-orang musyrik. Kami melihat pemandangan yang tiada bandingnya. Jumlah pasukan dan senjatanya, kuda dan kain sutra, juga emas. Sehingga mataku terasa silau,” ujar Abu Hurairah.
Abu Hurairah bersaksi atas perang ini. ”Aku menyaksikan Perang Mu’tah. Ketika kami berdekatan dengan orang-orang musyrik. Kami melihat pemandangan yang tiada bandingnya. Jumlah pasukan dan senjatanya, kuda dan kain sutra, juga emas. Sehingga mataku terasa silau,” ujar Abu Hurairah.
Sebelum melihatnya, pasukan para sahabat yang hanya
berjumlah 3.000 orang-orang beriman, sudah mendengar kabar tentang besarnya
pasukan lawan. Sampai-sampai mereka mengajukan berbagai pendapat, untuk
memikirkan jalan keluar. Ada yang berpendapat agar pasukan Islam mengirimkan surat
kepada Rasulullah saw, mengabarkan jumlah musuh yang dihadapi dan berharap
kiriman bala bantuan lagi. Banyak sekali usulan yang mengemuka, sampai kemudian
Abdullah ibnu Rawahah yang diangkap sebagai panglima pertama berkata di depan
pasukan.
”Demi Allah, apa yang kalian takutkan? Sesungguhnya apa yang kalian takutkan adalah alasan kalian keluar dari pintu rumah, yakni gugur sebagai syahid di jalan Allah. Kita memerangi mereka bukan karena jumlahnya, bukan karena kekuatannya. Majulah ke medan perang, karena hanya ada dua kemungkinan yang sama baiknya, menang atau syahid!”
Pidato perang yang singkat, tapi sangat menggetarkan. Seperti yang kita tahu dalam sejarah, sebelum berangkat Rasulullah berpesan pada pasukan. Jika Zaid bin Haritsah terkena musibah, maka panglima akan diserahkan kepada Ja’far bin Abi Thalib. Dan jika Ja’far bin Abi Thalib juga terkena musibah, maka Abdullah ibnu Rawahah yang menggantikannya.
”Demi Allah, apa yang kalian takutkan? Sesungguhnya apa yang kalian takutkan adalah alasan kalian keluar dari pintu rumah, yakni gugur sebagai syahid di jalan Allah. Kita memerangi mereka bukan karena jumlahnya, bukan karena kekuatannya. Majulah ke medan perang, karena hanya ada dua kemungkinan yang sama baiknya, menang atau syahid!”
Pidato perang yang singkat, tapi sangat menggetarkan. Seperti yang kita tahu dalam sejarah, sebelum berangkat Rasulullah berpesan pada pasukan. Jika Zaid bin Haritsah terkena musibah, maka panglima akan diserahkan kepada Ja’far bin Abi Thalib. Dan jika Ja’far bin Abi Thalib juga terkena musibah, maka Abdullah ibnu Rawahah yang menggantikannya.
Mahasuci Allah dengan segala tanda-tanda-Nya. Perkataan
Rasulullah benar terbukti, sebagai salah satu tanda-tanda kebesaran Allah. Zaid
bin Haritsah syahid dalam peperangan ini. Kemudian panji-panji Rasulullah
dipegang oleh Ja’far bin Abi Thalib. Panglima pasukan kaum Muslimin ini
menunggangi kuda yang berambut pirang, bertempur dengan gagah. Di tengah-tengah
peperangan ia bersenandung riang:
Duhai dekatnya surga
Harum dan dingin minumannya
Orang Romawi telah dekat dengan azabnya
Mereka kafir dan jauh nasabnya
Jika bertemu, aku harus membunuhnya
Dalam situasi perang, sungguh tak banyak pilihan. Menjadi yang terbunuh atau menjadi yang bertahan. Maka tentu saja senandung Ja’far ra berbunyi demikian. Tangan kanan Ja’far terputus karena tebasan pedang ketika mempertahankan panji pasukan. Kini tangan kirinya yang memegang. Tangan kirinya pun terbabat pula oleh tebasan. Sehingga panji-panji Islam dipegangnya dengan lengan atasnya yang tersisa hingga Ja’far ditakdirkan menemui syahidnya.
Ibnu Umar ra bersaksi, ”Aku sempat mengamati tubuh Ja’far yang terbujur pada hari itu. Aku menghitung ada 50 luka tikaman dan sabetan pedang yang semuanya ada dibagian depan dan tak satupun luka berada di bagian belakang.” Semoga Allah membalasnya dengan sayap yang kelak akan membuatnya terbang kemanapun dia suka.
Kini tiba giliran Abdullah ibnu Rawahah tampil ke depan untuk mengambil tanggung jawab, memimpin pasukan dan mengangkat panji-panji Islam. Ada kegundahan dalam hati dan pikirannya, karenanya Ibnu Rawahah memompa sendiri keberanian di dalam hatinya:
Aku bersumpah wahai jiwaku, turunlah!
Kamu harus turun atau kamu akan dipaksa
Bila manusia bersemangat dan bersuara
Mengapa aku melihatmu enggan terhadap surga
Dalam kalimat-kalimat syairnya di tengah laga, tergambar bahwa ada kegalauan dalam jiwa Abdullah ibnu Rawahah. Tentu saja hanya Allah yang Mengetahui. Apalagi dua sahabatnya, telah pergi mendahului. Melihat dua jasad mulia sahabatnya, Abdullah ibnu Rawahah kembali berkata:
Wahai jiwaku
Jika tidak terbunuh kamu juga pasti mati
Ini adalah takdir kan telah kau hadapi
Jika kamu bernasib seperti mereka berdua
Berarti kamu mendapat hidayah
Lalu kemudian, Abdullah ibnu Rawahah juga bertemu dengan syahidnya. Ini memang kisah tentang perang. Tapi sesungguhnya hikmah dan teladan yang ada di dalamnya, bermanfaat dalam semua peristiwa kehidupan. Dalam perang, tak ada sikap yang bisa disembunyikan. Pemberani, ketakutan, risau dan kegalauan, cerdik dan penuh akal, atau orang-orang yang selalu menghindar. Semua terlihat nyata. Tak ada yang bisa disembunyikan!
Takut, risau dan galau, sungguh adalah perasaan wajar yang muncul karena fitrah. Dalam sebuah periode kehidupan, kita seringkali merasakannya. Meski begitu, bukan pula alasan kita menghindar dari sesuatu yang harus kita taklukkan karena rasa takut, risau dan galau yang lebih menang. Kemudian kita mencari-cari alasan dengan menyebutnya dengan dalih strategi dan langkah pintar. Menunduk untuk menanduk, atau yang lainnya.
Gunung-gunung harus didaki, laut dan samudera harus diseberangi, lembah dan ngarai harus dijelajahi. Tantangan hidup harus ditaklukan bukan dihindari. Dan tujuan besar hidup kita sebagai seorang Muslim adalah menegakkan kebenaran dan menyebarkan kebaikan.
Berbuat kebaikan dan mencegah manusia dari kemunkaran, harus dilakukan, betapapun pahitnya balasan yang akan didapatkan. Ketakutan, risau dan galau akan selalu datang. Tapi berkali-kali pula kita harus mampu mengalahkan mereka dan berkata pada diri sendiri. Meniru ulang apa yang dikatakan sahabat Abdullah ibnu Rawahah dengan gagah pada hati dan akalnya, ”Apakah engkau enggan pada nikmat Allah yang Maha Tinggi?!” Wallahu a’lam bi shawab.
Duhai dekatnya surga
Harum dan dingin minumannya
Orang Romawi telah dekat dengan azabnya
Mereka kafir dan jauh nasabnya
Jika bertemu, aku harus membunuhnya
Dalam situasi perang, sungguh tak banyak pilihan. Menjadi yang terbunuh atau menjadi yang bertahan. Maka tentu saja senandung Ja’far ra berbunyi demikian. Tangan kanan Ja’far terputus karena tebasan pedang ketika mempertahankan panji pasukan. Kini tangan kirinya yang memegang. Tangan kirinya pun terbabat pula oleh tebasan. Sehingga panji-panji Islam dipegangnya dengan lengan atasnya yang tersisa hingga Ja’far ditakdirkan menemui syahidnya.
Ibnu Umar ra bersaksi, ”Aku sempat mengamati tubuh Ja’far yang terbujur pada hari itu. Aku menghitung ada 50 luka tikaman dan sabetan pedang yang semuanya ada dibagian depan dan tak satupun luka berada di bagian belakang.” Semoga Allah membalasnya dengan sayap yang kelak akan membuatnya terbang kemanapun dia suka.
Kini tiba giliran Abdullah ibnu Rawahah tampil ke depan untuk mengambil tanggung jawab, memimpin pasukan dan mengangkat panji-panji Islam. Ada kegundahan dalam hati dan pikirannya, karenanya Ibnu Rawahah memompa sendiri keberanian di dalam hatinya:
Aku bersumpah wahai jiwaku, turunlah!
Kamu harus turun atau kamu akan dipaksa
Bila manusia bersemangat dan bersuara
Mengapa aku melihatmu enggan terhadap surga
Dalam kalimat-kalimat syairnya di tengah laga, tergambar bahwa ada kegalauan dalam jiwa Abdullah ibnu Rawahah. Tentu saja hanya Allah yang Mengetahui. Apalagi dua sahabatnya, telah pergi mendahului. Melihat dua jasad mulia sahabatnya, Abdullah ibnu Rawahah kembali berkata:
Wahai jiwaku
Jika tidak terbunuh kamu juga pasti mati
Ini adalah takdir kan telah kau hadapi
Jika kamu bernasib seperti mereka berdua
Berarti kamu mendapat hidayah
Lalu kemudian, Abdullah ibnu Rawahah juga bertemu dengan syahidnya. Ini memang kisah tentang perang. Tapi sesungguhnya hikmah dan teladan yang ada di dalamnya, bermanfaat dalam semua peristiwa kehidupan. Dalam perang, tak ada sikap yang bisa disembunyikan. Pemberani, ketakutan, risau dan kegalauan, cerdik dan penuh akal, atau orang-orang yang selalu menghindar. Semua terlihat nyata. Tak ada yang bisa disembunyikan!
Takut, risau dan galau, sungguh adalah perasaan wajar yang muncul karena fitrah. Dalam sebuah periode kehidupan, kita seringkali merasakannya. Meski begitu, bukan pula alasan kita menghindar dari sesuatu yang harus kita taklukkan karena rasa takut, risau dan galau yang lebih menang. Kemudian kita mencari-cari alasan dengan menyebutnya dengan dalih strategi dan langkah pintar. Menunduk untuk menanduk, atau yang lainnya.
Gunung-gunung harus didaki, laut dan samudera harus diseberangi, lembah dan ngarai harus dijelajahi. Tantangan hidup harus ditaklukan bukan dihindari. Dan tujuan besar hidup kita sebagai seorang Muslim adalah menegakkan kebenaran dan menyebarkan kebaikan.
Berbuat kebaikan dan mencegah manusia dari kemunkaran, harus dilakukan, betapapun pahitnya balasan yang akan didapatkan. Ketakutan, risau dan galau akan selalu datang. Tapi berkali-kali pula kita harus mampu mengalahkan mereka dan berkata pada diri sendiri. Meniru ulang apa yang dikatakan sahabat Abdullah ibnu Rawahah dengan gagah pada hati dan akalnya, ”Apakah engkau enggan pada nikmat Allah yang Maha Tinggi?!” Wallahu a’lam bi shawab.
=====
Copas
http://www.kisahinspirasi.com/2012/09/takut-itu-wajar.html
Kisah Perdana Menteri Natsir Teladani Al-quran
Tidak ingatkah bagaimana Perdana Menteri Mohammad Natsir
meneladani isi Alquran? Perdana Menteri RI tahun 1950-1951 ini, menjadikan
Alquran sebagai jalan hidupnya. Karena itu Natsir selalu hidup dalam
kesederhanaan. Natsir tak punya barang mewah dan selalu memberikan teladan.
Lebih baik tampil dengan jas bertambal daripada makan hasil korupsi.
Wakil Perdana Menteri Mohammad Roem, mencatat bagaimana
Alquran benar-benar mendasari kehidupan Natsir. Ternyata Natsir adalah seorang
penulis tafsir Alquran. Sudah jelas Natsir sangat memahami isi Alquran.
“Menafsirkan Alquran menghendaki ketelitian dan ketekunan.
Dari guru itulah rupanya Natsir mendapat sifat teliti dan tekun,” tulis M Roem
dalam Bunga Rampai dari Sejarah Jilid III yang diterbitkan NV Bulan Bintang
tahun 1983 di Jakarta.
Tutur kata dan tulisan Natsir pun terpuji. M Roem menyangka
itulah berkah menafsirkan Alquran bagi Natsir.
Bagi Natsir, menjadi pemimpin berarti melayani rakyat. Tak
ada sedikit pun niat Natsir untuk memperkaya diri apalagi korupsi. Natsir
bahkan pernah menolak hadiah mobil dari koleganya. Padahal di rumahnya hanya
ada sebuah mobil yang sudah butut.
Kesederhanaan Natsir tercermin dalam berbagai hal. Kemeja
lusuhnya yang cuma dua helai, jasnya yang bertambal dan sikapnya yang santun.
Para pegawai kementerian penerangan pernah urunan membelikan Natsir kemeja
baru. Hal itu dilakukan agar Natsir tampak pantas sebagai menteri penerangan.
Seperti apa yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW, Natsir juga
sangat menghormati tamu. Dari pegawai rendahan, guru ngaji kelas kampung hingga
duta besar, semua diterimanya dengan ramah.
Natsir dihormati di seluruh dunia. Tak terhitung penghargaan
berkelas internasional yang diterimanya. Pada tahun 1957, ia menerima bintang
Nichan Istikhar (Grand Gordon) dari Raja Tunisia. Lalu Jaa-izatul Malik Faisal
al-Alamiyah pada tahun 1980. Natsir mendapat penghargaan dari beberapa ulama
dan pemikir terkenal seperti Syekh Abul Hasan Ali an-Nadwi dan Abul A’la
Maududi.
Pada tahun 1980, Natsir dianugerahi penghargaan Faisal Award
dari Raja Fahd Arab Saudi. Dia juga memperoleh gelar doktor kehormatan di
bidang politik Islam dari Universitas Islam Libanon pada tahun 1967. Pada tahun
1991, ia memperoleh dua gelar kehormatan, yaitu dalam bidang sastra dari
Universitas Kebangsaan Malaysia dan dalam bidang pemikiran Islam dari
Universitas Sains Malaysia.
=====
Copas
https://www.eramuslim.com/profil/kisah-perdana-menteri-natsir-teladani-al-quran.htm#.WHjFLht97IU
Balasan Bagi Penipu
Terkadang kita jumpai beberapa keanehan terjadi pada
makhluk-makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang kita yakini bahwa itu
semua terjadi dengan kehendak Sang Penguasa langit dan bumi ini, Zat Yang Maha
merajai segala apa yang ada di bumi ini. Seperti yang terjadi pada seekor kera
dalam kisah berikut, di mana dia telah menghukumi seorang yang telah berbuat
curang dalam bermuamalah karena ingin meraup keuntungan yang banyak. Hal ini
adalah dikategorikan sebagai memakan harta manusia dengan cara yang batil
padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan
harta sesamamu dengan jalan yang batil….” (QS. An-Nisa: 29)
Semoga hal ini dapat menjadi pelajaran bagi kita
semua. Wallahul-Muwaffiq.
Dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dari
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
“Ada seorang laki-laki yang pekerjaannya menjual khamr (arak)
di dalam kapal, lalu ia mencampur khamr itu dengan air, sedang bersamanya ada
seekor kera. Tiba-tiba kera itu mengambil kantuan (uangnya) lalu naik ke tiang
kapal, kemudian menumpahkan sebagian dinarnya ke laut dan sebagian dinar yang
lain ke dalam kapal, hingga membuatnya menjadi dua bagian.
Kisah di atas diriwayatkan oleh Imam Ahmad: 2:306, Imam
Al-Baihaqi dalam Syu’abul-Iman, 4:332 dan juga yang lainnya.
Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ahadits as-Shahihah, 6:628
no. 2844.
Hikmah dari Kisah
Sebuah kisah unik yang pantas menjadi pelajaran bagi kita
tentang suatu kebiasaan jelek pada diri seorang pedagang. Demi meraup
keuntungan yang banyak, ia hendak menipu manusia. Ia mencampur khamr daganganannya
dengan air agar menjadi banyak dan akan menghasilkan uang. Hasil dagangannya
ditumpahkan oleh kera tersebut sebagiannya ke laut dan sebagiannya lagi
ke dalam kapal. Barangkali itulah balasan yang pantas diterimanya tatkala di
dunia. Ini. Dan di akhirat kelak dia akan mendapatkan balasan yang jelek karena
penipuannya tersebut.
Praktik-praktik yang demikian pun kerap kita jumpai di zaman
kita sekarang ini, seorang pedagang mencampur barang dagangan yang baik dengan
yang jelek, barang-barang yang memiliki harga mahal dicampur dengan barang yang
harganya murah, mereka mencapur susu dengan air, mencampur madu dengan larutan
gula, mencampur bensin dengan minyak tanah atau mencampur minyak tanah itu
sendiri dengan air agar menjadi banyak. Mereka adalah orang-orang yang memakan
harta manusia dengan cara yang batil, padahal harta yang mereka ambil itu
adalah kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mereka akan dibalas
karenanya. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya tidaklah masuk surga daging yang tumbuh dari
kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan neraka lebih pantas untuknya.” (HR.
Ahmad, 28:468 dan At-Tirmidzi, 3:1, lihat Al-Misykah, 2:126)
=====
Copas
http://pengusahamuslim.com/4213-balasan-bagi-seorang-penipu.html
Keikhlasan Yang Pudar
Ibnul Jauzi rahimahullah di dalam bukunya “Talbis Iblis”
(perangkap iblis), pernah menukilkan dari Imam Hasan Al Bashri rahimahullah,
sebuah kisah yang menarik untuk direnungi. Berikut kisahnya:
“Dahulu kala, ada sebuah pohon yang sering disembah dan
dikeramatkan. Melihat hal itu, muncullah keinginan pada diri seorang pemuda
untuk menebangnya. Maka dia pun bergegas menuju pohon itu dalam keadaan marah
karena Allah. Di tengah jalan, dia dihadang oleh iblis yang telah merubah
wujudnya dalam bentuk manusia.
Iblis bertanya: ke manakah engkau hendak pergi? Si pemuda
menjawab: aku hendak menebang pohon yang selama ini selalu disembah dan
dikeramatkan dari selain Allah. Iblis berkata: maukah engkau menerima tawaran
yang lebih baik untukmu? Janganlah engkau menebang pohon itu, sebagai gantinya
engkau akan mendapatkan dua dinar, pada setiap pagi di balik bantalmu. Si
pemuda balik bertanya: dari manakah aku bisa mendapatkan bayaran itu? Iblis
menjawab: itu bukan urusanmu.
Maka si pemuda pun mengurungkan niatnya dan kembali pulang
ke rumahnya. Keesokannya, di pagi hari, dia memeriksa di balik bantalnya dan
dia mendapatkan dua dinar yang dijanjikan kepadanya. Dia merasa senang dan tak
lagi melanjutkan niatnya sebelum bertemu dengan sang iblis.
Sampailah pada suatu pagi, dia tidak lagi mendapatkan dua
dinar di balik bantalnya. Maka dia pun marah dan bergegas pergi untuk menebang
pohon keramat itu kembali. Seperti sebelumnya, di tengah jalan, dia di hadang
oleh sang iblis yang telah merubah wujudnya dalam bentuk manusia.
Iblis bertanya: ke manakah engkau hendak pergi? Si pemuda
menjawab: aku hendak menebang pohon yang selama ini selalu disembah dan
dikeramatkan dari selain Allah. Iblis pun berkata: engkau dusta, engkau tidak
akan bisa menebangnya. Namun si pemuda tidak mempedulikan ucapan sang iblis.
Maka iblis pun membantingnya ke tanah, lalu mencekiknya, sampai hampir saja
iblis membunuhnya.
Dalam kondisi yang demikian, iblis bertanya kepada pemuda
itu: tahukah engkau siapa aku? Aku adalah iblis. Saat pertama aku melihatmu
pergi hendak menebang pohon itu, engkau memang melakukannya dalam keadaan marah
karena Allah, sehingga aku tidak akan mampu menguasaimu. Namun sekarang sesudah
aku menipumu dengan dua dinar, engkau pergi hendak menebang pohon itu kembali
karena dua dinar bukan karena Allah, maka aku pun mampu menguasaimu.”
Alangkah hebatnya keikhlasan sampai Iblis pun tak akan mampu
berbuat sekehendaknya. Allah berfirman:
قال رب بما أغويتني لأزينن لهم في الأرض ولأغوينهم أجمعين، إلا
عبادك منهم المخلصين.
“Iblis berkata: wahai Robku, oleh sebab Engkau telah
memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik
(maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali
hamba-hamba Mu yang diberi keikhlasan diantara mereka.” (Al Hijr: 39-40)
Marilah kita perbaiki keikhlasan kita..
=====
Copas
http://www.kisahislam.net/2015/04/13/keikhlasan-yang-pudar/
Kamis, 05 Januari 2017
11 Nasehat Bagi Penuntut Ilmu
Oleh: Imam Nur Suharno *
Setiap penuntut ilmu pasti ingin sukses dalam belajar. Pun
dengan guru, bangga menyaksikan anak didiknya sukses. Kesuksesan dalam menuntut
ilmu itu tidak datang tiba-tiba, tetapi perlu proses yang harus dijalani secara
istiqamah.
Seorang ulama Syekh az-Zarnuji memberikan nasihat berharga kepada para penuntut ilmu. Maka itu, hafalkan dan amalkan nasihat itu.
Pertama, niat yang tulus. Seorang penuntut ilmu harus selalu menjaga keikhlasan dalam belajar, sebab niat selain sebagai obor juga menjadi pokok dari segala hal, termasuk menuntut ilmu.
Kedua, sabar dan tabah. Seorang penuntut ilmu hendaknya memiliki hati yang tabah dan sabar dalam belajar kepada guru. Dalam mempelajari suatu buku jangan ditinggalkan sebelum sempurna, dalam suatu bidang ilmu jangan berpindah pada bidang lain sebelum memahaminya, dan jangan pindah tempat belajar kecuali karena terpaksa.
Ketiga, selektif memilih teman. Seorang penuntut ilmu hendaknya memilih teman yang tekun, jujur, dan mudah memahami masalah. Berusaha menghindari teman yang malas, tidak disiplin, banyak bicara, suka membuat gaduh, dan gemar memfitnah.
Keempat, mengagungkan ilmu. Seorang penuntut ilmu tidak akan memperoleh kesuksesan ilmu dan tidak pula bermanfaat, selain jika mau mengagungkan ilmu itu sendiri dan ahli ilmu.
Kelima, menghormati guru. Termasuk dalam mengagungkan ilmu adalah menghormati guru. Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan, "Saya menjadi hamba sahaya dari orang yang telah mengajarku satu huruf."
Keenam, selalu khidmat dalam memperhatikan ilmu. Oleh sebab itu, hendaknya seorang penuntut ilmu bisa khidmat dalam memperhatikan ilmu, sekalipun ilmu itu telah ia dengar berulang-ulang.
Ketujuh, menghindari akhlak tercela. Seorang penuntut ilmu harus berusaha menjaga diri dari akhlak yang tercela, seperti sikap sombong atau takabur.
Kedelapan, kesungguhan hati. Seorang penuntut ilmu harus bersungguh hati dalam belajar secara kontinu (QS al-Ankabut [29]: 69).
Kesembilan, kontinuitas dalam mengulang materi belajar. Seorang penuntut ilmu harus selalu mengulang pelajaran yang telah dipelajari. Hal itu bisa dilakukan pada awal ataupun akhir waktu malam, karena waktu-waktu tersebut adalah waktu yang berkah dan memudahkannya untuk konsentrasi belajar.
Kesepuluh, bercita-cita luhur. Seorang penuntut ilmu harus memiliki cita-cita yang tinggi. Dikatakan, manusia itu terbang dengan cita-citanya, sebagaimana halnya burung terbang dengan sayapnya.
Kesebelas, berusaha sekuat tenaga. Penuntut ilmu harus bersungguh-sungguh mencapai kesuksesan, dengan tak kenal berhenti, dengan cara menghayati keutamaan ilmu.
Wahai para penuntut ilmu yang sedang berkelana menuntut ilmu. Ingatlah bahwa ilmu yang bermanfaat akan menjunjung tinggi nama seseorang, tetap harum namanya meskipun ia telah tiada.
Iman Suharno: Dosen SETIA Husnul Khotimah, Kuningan,
Jawa Barat
=====
Copas
http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/17/01/04/oj8ttd313-11-nasihat-bagi-penuntut-ilmu
Jawaban Elegan Tukang Bakso
Di suatu senja sepulang kantor, saya masih berkesempatan
untuk ngurus tanaman di depan rumah, sambil memperhatikan beberapa anak asuh
yang sedang belajar menggambar peta, juga mewarnai. Hujan rintik rintik selalu
menyertai di setiap sore di musim hujan ini.
Di kala tangan sedikit berlumuran tanah kotor,...terdengar suara tek...tekk.. .tek...suara tukang bakso dorong lewat. Sambil menyeka keringat..., ku hentikan tukang bakso itu dan memesan beberapa mangkok bakso setelah menanyakan anak - anak, siapa yang mau bakso ?
"Mauuuuuuuuu. ...", secara serempak dan kompak anak - anak asuhku menjawab.
Selesai makan bakso, lalu saya membayarnya. ...
Ada satu hal yang menggelitik fikiranku selama ini ketika saya membayarnya, si tukang bakso memisahkan uang yang diterimanya. Yang satu disimpan dilaci, yang satu ke dompet, yang lainnya ke kaleng bekas kue semacam kencleng. Lalu aku bertanya atas rasa penasaranku selama ini.
Di kala tangan sedikit berlumuran tanah kotor,...terdengar suara tek...tekk.. .tek...suara tukang bakso dorong lewat. Sambil menyeka keringat..., ku hentikan tukang bakso itu dan memesan beberapa mangkok bakso setelah menanyakan anak - anak, siapa yang mau bakso ?
"Mauuuuuuuuu. ...", secara serempak dan kompak anak - anak asuhku menjawab.
Selesai makan bakso, lalu saya membayarnya. ...
Ada satu hal yang menggelitik fikiranku selama ini ketika saya membayarnya, si tukang bakso memisahkan uang yang diterimanya. Yang satu disimpan dilaci, yang satu ke dompet, yang lainnya ke kaleng bekas kue semacam kencleng. Lalu aku bertanya atas rasa penasaranku selama ini.
"Mang kalo boleh tahu, kenapa uang - uang itu Emang
pisahkan? Barangkali ada tujuan ?" "Iya pak, Emang sudah memisahkan
uang ini selama jadi tukang bakso yang sudah berlangsung hampir 17 tahun.
Tujuannya sederhana saja, Emang hanya ingin memisahkan mana yang menjadi hak
Emang, mana yang menjadi hak orang lain / tempat ibadah, dan mana yang menjadi
hak cita-cita penyempurnaan iman ".
"Maksudnya.. ...?", saya melanjutkan bertanya.
"Iya Pak, kan agama dan Tuhan menganjurkan kita agar bisa berbagi dengan sesama. Emang membagi 3, dengan pembagian sebagai berikut :
1. Uang yang masuk ke dompet, artinya untuk memenuhi keperluan hidup sehari - hari Emang dan keluarga.
2. Uang yang masuk ke laci, artinya untuk infaq/sedekah, atau untuk melaksanakan ibadah Qurban. Dan alhamdulillah selama 17 tahun menjadi tukang bakso, Emang selalu ikut qurban seekor kambing, meskipun kambingnya yang ukuran sedang saja.
3. Uang yang masuk ke kencleng, karena emang ingin menyempurnakan agama yang Emang pegang yaitu Islam. Islam mewajibkan kepada umatnya yang mampu, untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji ini tentu butuh biaya yang besar. Maka Emang berdiskusi dengan istri dan istri menyetujui bahwa di setiap penghasilan harian hasil jualan bakso ini, Emang harus menyisihkan sebagian penghasilan sebagai tabungan haji. Dan insya Allah selama 17 tahun menabung, sekitar 2 tahun lagi Emang dan istri akan melaksanakan ibadah haji.
Hatiku sangat...... .....sangat tersentuh mendengar jawaban itu. Sungguh sebuah jawaban sederhana yang sangat mulia. Bahkan mungkin kita yang memiliki nasib sedikit lebih baik dari si emang tukang bakso tersebut, belum tentu memiliki fikiran dan rencana indah dalam hidup seperti itu. Dan seringkali berlindung di balik tidak mampu atau belum ada rejeki.
Terus saya melanjutkan sedikit pertanyaan, sebagai berikut : "Iya memang bagus...,tapi kan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yang mampu, termasuk memiliki kemampuan dalam biaya....".
Ia menjawab, " Itulah sebabnya Pak. Emang justru malu kalau bicara soal mampu atau tidak mampu ini. Karena definisi mampu bukan hak pak RT atau pak RW, bukan hak pak Camat ataupun MUI.
Definisi "mampu" adalah sebuah definisi dimana kita diberi kebebasan untuk mendefinisikannya sendiri. Kalau kita mendefinisikan diri sendiri sebagai orang tidak mampu, maka mungkin selamanya kita akan menjadi manusia tidak mampu. Sebaliknya kalau kita mendefinisikan diri sendiri, "mampu", maka Insya Allah dengan segala kekuasaan dan kewenangannya Allah akan memberi kemampuan pada kita".
"Masya Allah..., sebuah jawaban elegan dari seorang tukang bakso".
"Maksudnya.. ...?", saya melanjutkan bertanya.
"Iya Pak, kan agama dan Tuhan menganjurkan kita agar bisa berbagi dengan sesama. Emang membagi 3, dengan pembagian sebagai berikut :
1. Uang yang masuk ke dompet, artinya untuk memenuhi keperluan hidup sehari - hari Emang dan keluarga.
2. Uang yang masuk ke laci, artinya untuk infaq/sedekah, atau untuk melaksanakan ibadah Qurban. Dan alhamdulillah selama 17 tahun menjadi tukang bakso, Emang selalu ikut qurban seekor kambing, meskipun kambingnya yang ukuran sedang saja.
3. Uang yang masuk ke kencleng, karena emang ingin menyempurnakan agama yang Emang pegang yaitu Islam. Islam mewajibkan kepada umatnya yang mampu, untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji ini tentu butuh biaya yang besar. Maka Emang berdiskusi dengan istri dan istri menyetujui bahwa di setiap penghasilan harian hasil jualan bakso ini, Emang harus menyisihkan sebagian penghasilan sebagai tabungan haji. Dan insya Allah selama 17 tahun menabung, sekitar 2 tahun lagi Emang dan istri akan melaksanakan ibadah haji.
Hatiku sangat...... .....sangat tersentuh mendengar jawaban itu. Sungguh sebuah jawaban sederhana yang sangat mulia. Bahkan mungkin kita yang memiliki nasib sedikit lebih baik dari si emang tukang bakso tersebut, belum tentu memiliki fikiran dan rencana indah dalam hidup seperti itu. Dan seringkali berlindung di balik tidak mampu atau belum ada rejeki.
Terus saya melanjutkan sedikit pertanyaan, sebagai berikut : "Iya memang bagus...,tapi kan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yang mampu, termasuk memiliki kemampuan dalam biaya....".
Ia menjawab, " Itulah sebabnya Pak. Emang justru malu kalau bicara soal mampu atau tidak mampu ini. Karena definisi mampu bukan hak pak RT atau pak RW, bukan hak pak Camat ataupun MUI.
Definisi "mampu" adalah sebuah definisi dimana kita diberi kebebasan untuk mendefinisikannya sendiri. Kalau kita mendefinisikan diri sendiri sebagai orang tidak mampu, maka mungkin selamanya kita akan menjadi manusia tidak mampu. Sebaliknya kalau kita mendefinisikan diri sendiri, "mampu", maka Insya Allah dengan segala kekuasaan dan kewenangannya Allah akan memberi kemampuan pada kita".
"Masya Allah..., sebuah jawaban elegan dari seorang tukang bakso".
=====
Copas
http://www.kisahinspirasi.com/2012/09/kisah-inspirasi-jawaban-elegan-dari.html
Tempayan Retak
Seorang tukang air India memiliki dua tempayan besar,
Masing-masing bergantung pada kedua ujung sebuah pikulan Yang dibawa menyilang
pada bahunya. Satu dari tempayan itu retak, Sedangkan tempayan satunya lagi
tidak. Jika tempayan yang tidak retak itu selalu membawa air penuh setelah
perjalanan panjang dari mata air ke rumah majikannya. Tempayan itu hanya
dapat air setengah penuh, Selama dua tahun, hal ini terjadi setiap hari. Si
tukang air hanya dapat membawa Satu setengah tempayan air ke rumah majikannya.Tentu
saja si tempayan yang tidak retak Merasa bangga akan prestasinya, Karena dapat
menunaikan tugasnya dengan sempurna. Namun si tempayan retak yang malang
itu Merasa malu sekali akan ketidaksempurnaannya Dan merasa sedih sebab ia
hanya dapat Memberikan setengah dari porsi yang seharusnya Dapat diberikannnya.
Setelah dua tahun tertekan oleh kegagalan pahit ini,
Tempayan retak itu berkata kepada si tukang air, "Saya sungguh malu pada
diri saya sendiri, dan saya ingin mohon maaf kepadamu."
"Kenapa?" tanya si tukang air, "Kenapa kamu merasa malu?"
"Saya hanya mampu, selama dua tahun ini, membawa setengah porsi air dari
yang seharusnya dapat saya bawa karena adanya retakan pada sisi saya telah
membuat air yang saya bawa bocor sepanjang jalan menuju rumah majikan kita.
Karena cacadku itu, saya telah membuatmu rugi." Kata tempayan itu. Si
tukang air merasa kasihan pada si tempayan retak, Dan dalam belas kasihannya,
ia berkata, "Jika kita kembali ke rumah majikan besok, aku ingin
kamu memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan."
Benar, ketika mereka naik ke bukit, Si tempayan retak memperhatikan Dan baru menyadari bahwa ada bunga-bunga indah Di sepanjang sisi jalan, Dan itu membuatnya sedikit terhibur.
Namun pada akhir perjalanannya, Ia kembali sedih karena separuh air yang dibawanya telah bocor, dan kembali tempayan retak itu meminta maaf pada si tukang air atas kegagalannya. Si tukang air berkata kepada tempayan itu, "Apakah kamu memperhatikan adanya bunga-bunga di sepanjang jalan di sisimu tapi tidak ada bunga di sepanjang jalan di sisi tempayan yang lain yang tidak retak itu Itu karena aku selalu menyadari akan cacadmu. Dan aku memanfaatkannya. Aku telah menanam benih-benih bunga di sepanjang jalan di sisimu, Dan setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata air, Kamu mengairi benih-benih itu. Selama dua tahun ini aku telah dapat memetik bunga-bunga Indah itu untuk menghias meja majikan kita. Tanpa kamu sebagaimana kamu ada, majikan kita tak akan dapat menghias rumahnya seindah sekarang. "
Benar, ketika mereka naik ke bukit, Si tempayan retak memperhatikan Dan baru menyadari bahwa ada bunga-bunga indah Di sepanjang sisi jalan, Dan itu membuatnya sedikit terhibur.
Namun pada akhir perjalanannya, Ia kembali sedih karena separuh air yang dibawanya telah bocor, dan kembali tempayan retak itu meminta maaf pada si tukang air atas kegagalannya. Si tukang air berkata kepada tempayan itu, "Apakah kamu memperhatikan adanya bunga-bunga di sepanjang jalan di sisimu tapi tidak ada bunga di sepanjang jalan di sisi tempayan yang lain yang tidak retak itu Itu karena aku selalu menyadari akan cacadmu. Dan aku memanfaatkannya. Aku telah menanam benih-benih bunga di sepanjang jalan di sisimu, Dan setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata air, Kamu mengairi benih-benih itu. Selama dua tahun ini aku telah dapat memetik bunga-bunga Indah itu untuk menghias meja majikan kita. Tanpa kamu sebagaimana kamu ada, majikan kita tak akan dapat menghias rumahnya seindah sekarang. "
=====
Copas
http://www.kisahinspirasi.com/2012/09/kisah-inspirasi-tempayan-retak.html
Rabu, 04 Januari 2017
4 Macam Golongan Manusia
Dalam salah satu taushiyahnya Sayyidul Auliya Syaikh Abdul
Qadir al-Jailani pernah membagi 4 Macam Golongan Manusia. Pertama, Mereka Yang
Hati Dan Lisannya Mati. Kedua, Mereka yang mati hatinya namun lisannya
bercerita. ketiga mereka yang kelu lidahnya, tetapi hayat hatinya. dan terakhir
mereka yang berilmu dan berkarya sesuai ilmunya.
Lantas bagaimanakah cara kita mengkondisikan dunia batiniah kita yang berada di dalam serta menghbungkannya dengan aktifitas keseharian lahiriah? Dalam nasehatnya Syaikh Abdul Qadir al-Jailani seolah menumpukan kondisi ini pada tiga hal, hati, lisan dan karya. Kondisi hati harus senantiasa hidup dan aktif, sedangkan kondisi lisan sebaiknya selalu pasif dan mati, sedangkan badan harus selalu berkarya dan berkreasi.
Dalam salah satu wasiatnya sebagaimana dinukil oleh Syikh Nawawi Al-Bantani dalam Nashaihul Ibad, Sayyidul Auliya Syaikh Abdul Qadir al-Jailani pernah berpendapat bahwa tipe manusia dapat dibagi dalam empat kelompok besar:
Pertama: Yaitu kelompok manusia yang tidak berlidah dan tidak berhati merekalah para pendurhaka kepada Allah. Maka janganlah kita sampai tergolong seperti mereka, apalagi berteman dengannya. Karena merekalah penghuni sah neraka.
Kedua: Yaitu golongan yang memiliki lisan tetapi tidak berhati. Mereka berbicara dengan manisnya hikmah namun tidak mengamalkannya. Bahkan mereka mengajak orang-orang untuk menuju Allah swt. Tetapi mereka sendiri malah menjauhkan diri dari-Nya. Kepada mereka Syaikh Abdul Qadir mewanti-wanti kepada jangan sampai terbujuk keindahan rangakaian katanya yang dapat membakar mu bahkan dapat pula kebusukan hatinya membunuhmu.
Ketiga: Yaitu kelompok memiliki hati tetapi tidak berlisan, merekalah orang mukmin yang disembunyikan Allah swt dari orang lain, serta Allah jaga matanya dengan perasaan hina akan dirinya sendiri. Kepada hati kelompok inilah Allah memberikan cahaya, sehingga mereka mengerti dampak bergumul (terusmenerus) dengan sesama manusia serta bahayanya banyak bicara. Mereka inilah kekasih (wali) Allah swt yang senantiasa disembunyikan Allah (dari khalayak ramai).
Keempat: Yaitu orang-orang yang belajar dan mengajar dan beramal dengan ilmunya itulah orang-orang yang mengerti kebesaran Allah. Oleh karena itulah menitipkan dalam hati mereka berbagai ilmu dan pengetahuan dan juga Allah lapangkan dadanya guna menerima titipan-titpan pengetahuan tersebut.
Maka kepada kelompok terakhir ini jangan sampai kita menjauhinya apalagi menentangnya. Bahkan kalau perlu sering-seringlah mendekatinya agar mendapatkan nasihat yang berguna.
Demikianlah empat macam golongan manusia hasil pengkelompokan Syiakh Abdul Qadi al-Jailani. Tentunya pengelompokan ini merupakan hasil penelitian yang cermat dengan berbagai pertimbangan dhahir dan bathin. Mengingat beliau sebagai seoang sayyidul auliya yang mengetahui dengan persis karakter manusia-manusia yang dicintai maupun dibenci Allah swt.
Selanjutnya Syaikh Abdul Qadir menutup nasihat dan hasil penelitiannya ini dengan sebuah penekanan yang berbunyai:
Ketahuiah bahwa pokok-pokok ajaran zuhud adalah menjauhi berbagai hal-hal yang dilarang (haramkan) Allah swt, baik yang besar maupun kecil. Serta menjalankan berbagai kewajiban (faraidh) baik yang mudah maupun yang susah. Serta menyerahkan urusan dunia kepada para aahlinya (yang berekepentingan) baik urusan kecil maupun urursan besar.
Keterangan penutup ini seolah memberikan isyarat kepada kita semua bahwa zuhud bukanlah sesuatu yang berat dan spesial yang hanya bisa dilakukan orang-orang tertentu. tetapi zuhud adalah laku alamiah yang dapat dicapai dengan berlatih dan berlatih memulai dari hal yang kecil. Zuhud tidak semata bersifat penghindaran, tetapi juga bersifat pelaksanaan. Dengan melaksanakan berbagai kewajiban syariah sama artinya dengan melatih diri membisakan zuhud.
Lantas bagaimanakah cara kita mengkondisikan dunia batiniah kita yang berada di dalam serta menghbungkannya dengan aktifitas keseharian lahiriah? Dalam nasehatnya Syaikh Abdul Qadir al-Jailani seolah menumpukan kondisi ini pada tiga hal, hati, lisan dan karya. Kondisi hati harus senantiasa hidup dan aktif, sedangkan kondisi lisan sebaiknya selalu pasif dan mati, sedangkan badan harus selalu berkarya dan berkreasi.
Dalam salah satu wasiatnya sebagaimana dinukil oleh Syikh Nawawi Al-Bantani dalam Nashaihul Ibad, Sayyidul Auliya Syaikh Abdul Qadir al-Jailani pernah berpendapat bahwa tipe manusia dapat dibagi dalam empat kelompok besar:
Pertama: Yaitu kelompok manusia yang tidak berlidah dan tidak berhati merekalah para pendurhaka kepada Allah. Maka janganlah kita sampai tergolong seperti mereka, apalagi berteman dengannya. Karena merekalah penghuni sah neraka.
Kedua: Yaitu golongan yang memiliki lisan tetapi tidak berhati. Mereka berbicara dengan manisnya hikmah namun tidak mengamalkannya. Bahkan mereka mengajak orang-orang untuk menuju Allah swt. Tetapi mereka sendiri malah menjauhkan diri dari-Nya. Kepada mereka Syaikh Abdul Qadir mewanti-wanti kepada jangan sampai terbujuk keindahan rangakaian katanya yang dapat membakar mu bahkan dapat pula kebusukan hatinya membunuhmu.
Ketiga: Yaitu kelompok memiliki hati tetapi tidak berlisan, merekalah orang mukmin yang disembunyikan Allah swt dari orang lain, serta Allah jaga matanya dengan perasaan hina akan dirinya sendiri. Kepada hati kelompok inilah Allah memberikan cahaya, sehingga mereka mengerti dampak bergumul (terusmenerus) dengan sesama manusia serta bahayanya banyak bicara. Mereka inilah kekasih (wali) Allah swt yang senantiasa disembunyikan Allah (dari khalayak ramai).
Keempat: Yaitu orang-orang yang belajar dan mengajar dan beramal dengan ilmunya itulah orang-orang yang mengerti kebesaran Allah. Oleh karena itulah menitipkan dalam hati mereka berbagai ilmu dan pengetahuan dan juga Allah lapangkan dadanya guna menerima titipan-titpan pengetahuan tersebut.
Maka kepada kelompok terakhir ini jangan sampai kita menjauhinya apalagi menentangnya. Bahkan kalau perlu sering-seringlah mendekatinya agar mendapatkan nasihat yang berguna.
Demikianlah empat macam golongan manusia hasil pengkelompokan Syiakh Abdul Qadi al-Jailani. Tentunya pengelompokan ini merupakan hasil penelitian yang cermat dengan berbagai pertimbangan dhahir dan bathin. Mengingat beliau sebagai seoang sayyidul auliya yang mengetahui dengan persis karakter manusia-manusia yang dicintai maupun dibenci Allah swt.
Selanjutnya Syaikh Abdul Qadir menutup nasihat dan hasil penelitiannya ini dengan sebuah penekanan yang berbunyai:
Ketahuiah bahwa pokok-pokok ajaran zuhud adalah menjauhi berbagai hal-hal yang dilarang (haramkan) Allah swt, baik yang besar maupun kecil. Serta menjalankan berbagai kewajiban (faraidh) baik yang mudah maupun yang susah. Serta menyerahkan urusan dunia kepada para aahlinya (yang berekepentingan) baik urusan kecil maupun urursan besar.
Keterangan penutup ini seolah memberikan isyarat kepada kita semua bahwa zuhud bukanlah sesuatu yang berat dan spesial yang hanya bisa dilakukan orang-orang tertentu. tetapi zuhud adalah laku alamiah yang dapat dicapai dengan berlatih dan berlatih memulai dari hal yang kecil. Zuhud tidak semata bersifat penghindaran, tetapi juga bersifat pelaksanaan. Dengan melaksanakan berbagai kewajiban syariah sama artinya dengan melatih diri membisakan zuhud.
=====
Copas
http://www.1001-kisahislami.com/2016/12/4-macam-golongan-manusia-menurut-syaikh.html
Langganan:
Postingan (Atom)